*
Akhir 1950-an. Pengusaha yang tadinya makmur itu kian dirundung masalah. Perusahaannya sebentar lagi akan dinyatakan bangkrut. Kejatuhan ini sebenarnya sudah lama dia ramalkan, tapi ketamakannya membuat dia malas untuk mencoba berpikir antisipatif. Yang dia lakukan malah menambah, menambah, dan terus menambah jumlah produksi perusahaannya. Mencekoki mulut semua orang dengan pisang, buah melengkung yang berwarna kuning jika sudah matang. Salah satu dalam deretan buah-buah pertama yang bakal dikenalkan orang tua pada anaknya yang masih bayi.
Pisang adalah buah favorit. Dan Gros Michel atau “Big Mike” adalah kultivar yang paling banyak diekspor ke mancanegara, termasuk Amerika Serikat. Big Mike adalah primadona. Tak ada yang menandinginya. Tapi nyatanya, posisi primadona ini tidak permanen.
Petaka dimulai ketika sebuah penyakit ditemukan di Suriname. Penyakit ini dinamakan penyakit panama. Sasarannya adalah Big Mike. Penyakit panama sebenarnya adalah jamur. Fusarium oxysporum atau sering disebut “Agen Hijau” menyerang pembuluh kayu (xylem) dari berbagai jenis tanaman dan efeknya bisa sampai menimbulkan kematian.
Bencana ini kian terasa menjadi besar ketika penyakit tersebut sampai di Honduras, negara penghasil pisang terbesar pada masa itu. Dan awal keruntuhan era Big Mike pun dimulai.
Karena menurunnya produksi Big Mike akibat serangan penyakit panama, dunia sempat kekurangan stok pisang. Sampai muncul lagu “Yes! We Have No Bananas” yang terinspirasi dari kejadian ini. Bahkan akhirnya lagu ini menjadi hits. Dunia kalang kabut karena terlalu lama tidak makan pisang.
Dunia tidak mau terlalu lama tidak memakan pisang. Kekurangan stok Big Mike bukan berarti akhir dari kebiasaan masyarakat mengonsumsi makanan primata tersebut. Pisang tetap jadi favorit walaupun Big Mike sudah tidak lagi jadi primadona.
Mahkota primadona itupun bergeser pada pisang cavendish, pisang yang dianggap lebih resisten terhadap penyakit panama (walaupun konon rasanya kurang manis dibandingkan dengan Big Mike). Pisang yang sama pula dengan yang kumakan sebagai sarapan di suatu pagi.
*
Sudah cukup lama Cavendish tampil sebagai primadona di dunia perpisangan. Kultivar ini masih menjadi primadona sampai Michael Jackson meninggal dunia. Beberapa bulan setelahnya pun masih. Tapi entah dengan tahun.
Pada pertengahan 2008, ada laporan dari Sumatera dan Malaysia bahwa jenis pisang mirip-Cavendish ternyata rentan terhadap penyakit panama. Karena Cavendish cenderung dibudidayakan dengan cara reproduksi vegetatif konvensional daripada reproduksi seksual, maka secara genetik tanaman ini identik. Jadi, tanaman tidak akan berkembang menjadi lebih resisten terhadap penyakit panama. Penyakit panama tetap menjadi momok mengerikan bagi industri pisang dunia.
Musuh yang sama, kasus yang berbeda. Kini berbagai langkah coba ditempuh untuk mengantisipasi jika kasus Big Mike terulang lagi pada Cavendish. The Honduras Foundation for Agricultural Research (FHIA) telah mencoba mengkawinsilangkan berbagai jenis pisang dalam beberapa dekade terakhir. Hasilnya cukup memuaskan, pisang “baru” ini katanya dipastikan resisten terhadap penyakit yang menimpa Cavendish.
Lalu akankah era Cavendish berakhir seperti yang dialami Big Mike dulu? Akankah roda kehidupan berputar kembali?
Tahta primadona tetaplah tidak permanen.
*
Perputaran roda kehidupan ditemui di berbagai aspek di sana-sini. Pisang salah satunya. Buah ini juga menyimpan cerita kelam dalam sejarah budidayanya. Primadona pisang tidaklah permanen, seperti primadona dalam sebuah desa. Waktu akan berbicara dan menggulingkan yang di puncak kalau memang waktunya telah habis. Dan yang di puncak akan turun tanpa punya kekuatan lagi untuk melawan.
Terus berada di puncak memang tidak mungkin. Kita hidup hanyalah mengikuti ke mana arus membawa.
Jika arus itu mau menenggelamkan kita, mungkin kita bisa berenang ke permukaan agar itu tak terjadi. Tapi arus deras itu pasti akan jadi jinak dalam beberapa saat.
Jika hari ini kita penat, yakini esok akan jadi hari paling menggembirakan sedunia. Jika hari ini kita melakukan kebodohan, yakini besok kita akan menjadi lebih jenius dari Albert Einstein.
Hidup ini hanya soal bagaimana kita menjalaninya. Dan aku diajarkan hal ini oleh sesisir pisang cavendish.
___
Gambar diambil dari sini.
Ada berita yang cukup menggemparkan keluar tanggal 12 Januari kemarin, aku mendapatkan berita ini dari blog resmi Google. Judulnya “A new approach to China“–”Sebuah Pendekatan Baru untuk Cina”.
Berita tersebut bermuara pada satu ancaman besar yang sangat berani sekaligus berisiko besar: Google mengancam akan hengkang dari Negeri Tirai Bambu.
Uh, oh. Apa sebenarnya yang terjadi? Cina sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia tentunya menyimpan potensi yang sangat besar dalam jumlah pengguna internet. Namun Google, perusahaan asal Amerika Serikat yang berbasis pada industri internet dan perangkat lunak komputer, malah berencana menarik diri dari sana. Bukankah ini adalah sebuah anomali? Apalagi imbas yang akan terjadi setelah penarikan diri Google adalah kemungkinan berkembangnya Bing, layanan mesin pencari internet milik Microsoft yang merupakan pesaing Google.
Tentu Google bertindak karena suatu hal.
Semuanya bermula ketika Google memutuskan untuk lebih banyak berkiprah di Cina. Pemerintah Cina memberi batasan kepada Google dalam sepak terjangnya di dunia internet. Batasan-batasan ini diberikan dalam bentuk sensor.
Sensor mungkin sangat bertolak belakang dengan prinsip dasar Google. Google ingin menjadi penyedia informasi yang seluas-luasnya untuk masyarakat. Namun Pemerintah Cina mau agar Google menghormati hukum, kepentingan umum, kultur, serta tradisi mereka. Akhirnya, Google memberi keputusan. Mereka berkata, “Kami akan memantau kondisi di Cina dengan cermat, termasuk undang-undang baru dan pembatasan lainnya pada layanan kami. Jika kami menentukan bahwa kami tidak dapat untuk mencapai tujuan yang diuraikan, kami tidak akan ragu-ragu untuk mempertimbangkan kembali pendekatan kami ke Cina.”
Lalu muncullah serangkaian serangan cyber yang berasal dari Cina. Serangan-serangan tersebut tampak bertujuan kepada akun Gmail milik aktivis Hak Asasi Manusia Cina.
Entah serangan cyber itu berasal dari pemerintah Cina (dan/atau agen-agennya) atau tidak, tapi yang jelas Google menganggap keadaan itu sudah termasuk dalam kategori “patut dipertimbangkan”. Lalu keluarlah ancaman mundur sepenuhnya dari Cina.
Inilah. Sebuah perusahaan megaraksasa melawan sebuah negara adidaya.
Yang diinginkan Google adalah pencabutan sensor. Bertolak belakang dengan keinginan pemerintah Cina.
Cina sebagai negara yang mempunyai akar-akar komunis, tentu punya tabiat untuk mengendalikan rakyatnya. Sementara Google yang berasal dari negara kapitalis menganggap apa yang dilakukan Cina sudah kuno.
Google ingin membuka informasi, sesuatu yang dianggap salah oleh Cina. Bagi mereka informasi harus dibatasi.
Ini tidak hanya bakal berujung pada kepentingan bisnis dan industri saja. Nantinya, kasus ini bakal mempengaruhi hubungan bilateral AS-Cina, juga sampai masalah ideologi kedua negara yang bertolak belakang.
Memang dunia ini belakangan sudah menjadi sangat kapitalis. Cina yang komunis saja tidak menjadi seradikal dulu lagi. Matinya Soviet bisa dikatakan sebagai matinya komunis, walau tidak secara keseluruhan. Kali ini akar komunis Cina coba digoyang lagi, dan sampai sejauh ini mereka masih berusaha untuk tetap menegakkan batang-batang kokoh mereka.
Masalahnya cuma satu: sampai kapan mereka bertahan?
Google lawan Cina. Menarik untuk terus dipantau perkembangannya.
N.B. Ada sedikit yang mengganjal di sini bagiku. Google ingin membuka informasi selebar-lebarnya dan menjadikannya milik bersama. Bukankah itu sangat sosialis (/komunis)? Jadi, yang mana sosialis, yang mana kapitalis?
Ada sebuah permainan yang sedang populer di kalangan teman-temanku akhir-akhir ini. Permainan yang mungkin sudah ada sejak zaman purba. Yang usianya mungkin sudah tak terkira lagi tuanya. Yang mungkin sudah ada sejak pertama kali manusia itu sendiri hadir di dunia. Yang jejak permainannya sudah mendarah daging di berbagai daerah. Sebuah permainan yang bahkan tertulis pada kitab suci sebuah agama. Sebuah permainan kuno, namun terbukti mampu mengikuti perkembangan zaman. Permainan yang sulit untuk dideskripsikan nama umumnya, saking seringnya dia muncul dengan berbagai nama.
Aku pertama kali mengenal permainan ini dari sebuah buku. Di buku ini diceritakan bahwa permainan ini tertulis di sebuah kitab suci. “Satu-satunya judi yang diperbolehkan kitab suci.” Begitu yang tertulis di buku itu seingatku. Nama permainan ini di sana adalah Umim dan Tumim. Umim dan Tumim berbentuk batu. Salah satu berwarna putih, yang lain berwana hitam. Batu yang berwarna putih mempunyai arti tidak sementara yang hitam menggambarkan ya. Kedua batu ini ditaruh dalam sebuah kantung. Ketika kita mempunyai sebuah pertanyaan tertutup maka kita bisa menanyakan jawabannya dengan mengambil salah satu batu di kantung tersebut tanpa melihat batu apa yang kita ambil. Jadi apapun batu yang terambil, itu merupakan jawaban yang tidak kita tentukan. Dan itulah jawaban ya atau tidak dari Umim dan Tumim.
Kali kedua kutemui permainan macam ini, aku menemuinya secara langsung, bukan sekedar membacanya dari sebuah buku. Permainan ini tidak berbentuk pengambilan batu, tapi pembukaan halaman buku secara acak. Buku yang digunakan adalah buku yang di setiap lembarnya telah tercetak kemungkinan-kemungkinan jawaban dari sebuah pertanyaan tertutup. Buku tersebut lalu dibuka–dengan acak tentunya–dan terbukalah halaman dengan jawaban atas pertanyaan kita di atasnya.
Yang paling terakhir kutemui, permainan ini muncul dalam bentuk aplikasi di sebuah situs jejaring sosial terpopuler di muka bumi. Lihat bagaimana permainan ini mampu bertahan dalam segala macam perkembangan zaman, bahkan permainan ini bisa menembus era teknologi informasi! Yang dilakukan tetap sama. Tanyakan sebuah pertanyaan tertutup, dan kita akan mendapatkan jawabannya dari permainan ini.
Namun ternyata jauh sebelum aku mengenal permainan ini dengan sepaham-pahamnya, sebenarnya aku sudah sangat dekat dengan permainan ini. Permainan ini sering aku mainkan, terlalu sering malah. Dan permainan ini nyaris merasuki setiap bentuk permainan yang kumainkan di kala kecil. Adu koin, suit, dadu, atau apapun itu. Semuanya hanya bentuk lain dari permainan ini.
Entah berapa kali aku menemui permainan ini sepanjang hidupku. Mungkin sudah sangat sering, tapi aku tak menyadarinya. Permainan ini memang sering bersembunyi dalam berbagai kamuflase.
Permainan ini bertahan, berkembang, dan terus dimainkan. Sebegitu istimewakah permainan ini?
*
Hidup katanya adalah masalah memilih. Dan semua pilihan sebenarnya bersumber pada sepasang opsi yang berlawanan. Hitam atau putih. Ambil atau acuhkan. Simpan atau buang. Lari atau sembunyi. Ya atau tidak. Dua pilihan yang merupakan jawaban dari pertanyaan tertutup.
Mungkin permainan ini bertahan karena permainan ini memberikan jawaban atas apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan: pilihan. Manusia hidup untuk memilih. Di tengah kepenatan yang menumpuk, di ujung emosi yang memuncak, di kala kejenuhan terus bertambah; hal-hal semacam ini menjadi ajang yang sangat tepat untuk sekedar mencari kesenangan atau bahkan sampai untuk menentukan jalan hidup sesungguhnya.
Hidup memang tentang pilihan, dan kadang manusia butuh untuk dibimbing akan pilihannya. Beberapa di antaranya senang untuk dibimbing dengan cara-cara semacam ini: mengambil Umim atau Tumim, membuka halaman buku secara acak, atau menanyakan kepada Fortune Teller Genius.
Bimbingan lewat permainan macam ini memang terasa nyata karena tidak memihak. Peluang untuk mendapatkan jawaban ya atau tidak berimbang: lima puluh-lima puluh. Tidak ada pihak yang diuntungkan dengan pengambilan keputusan macam ini.
Kadang kita memang dihadapkan pada keadaan-keadaan di mana semua kondisi tidak menguntungkan dan sama saja. Tapi keputusan tetap harus diambil. Dan mungkin keputusan secara randomlah yang terbaik.
Buat apa susah-susah berpikir kalau semuanya bakal berakhir sama saja? Lebih baik kau cari saja jawabannya lewat lemparan dadu atau pengambilan kelereng. Lebih mudah dan tak perlu repot.
Betul juga. Buat apa merepoti hal yang tidak ada gunanya untuk direpoti. Malah cuma akan merepotkan diri sendiri.
Jadi apakah permainan ini istimewa? Aku sendiri bakal menjawab ya, tapi coba saja kau tanyakan dulu ke Fortune Teller Genius.
Dua bom meluluhlantakkan Kota Jakarta Jumat, 17 Juli 2009, kemarin. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh warga lokalnya saja. Sebuah klub sepak bola kelas dunia yang tadinya dijadwalkan untuk melakoni sebuah partai persahabatan pun membatalkan kunjungan mereka. Mereka tak mau mengambil risiko untuk tetap ke Jakarta yang sedang berkecamuk ini.
Dugaan sementara menyebutkan bahwa serangan bom ini merupakan serangkaian dari ulah sebuah jaringan teroris. Dan momentum yang diambil begitu tepat sehingga seluruh mata dunia kini mengarah ke Indonesia yang sedang dibombardir oleh teror-teror maut.
Teror ini menimbulkan ketakutan–kepanikan. Kepanikan yang membuat masyarakat berada dalam chaos. Keadaan yang sangat mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjalankan keinginan mereka. Yang mereka butuhkan cuma satu: masyarakat kacau-balau dan semuanya tidak akan mudah untuk dikendalikan oleh yang berkuasa saat ini. Bahkan pemindahan kekuasaan pun mungkin saja terjadi pada saat-saat seperti ini.
Akan tetapi, keadaan tidak berjalan semulus itu. Di tengah serangan bom sana-sini yang harusnya menakutkan siapapun itu, masyarakat Indonesia justru menunjukkan keinginan untuk tetap satu. Mungkin tidak keseluruhan masyarakat Indonesia bersikap seperti itu, tapi sebagian saja sudah cukup.
Kekacauan memang sempat terjadi, namun tidak mencapai ke taraf parah. Semuanya masih terkontrol. Dan–yang terpenting–sebagian masyarakat Indonesia justru memperlihatkan gelagat untuk bersatu setelah serangkaian serangan bom ini. Mereka menunjukkan diri pada dunia bahwa mereka tidak takut. Justru mereka membuat semacam jargon #indonesiaunite yang berkali-kali menjadi nomor satu di Trending Topics Twitter.
Mereka tak mudah menyerah dan membuktikan bahwa diri mereka tidak lemah. Tekad kuat untuk bersatu ini terasa luar biasa karena terjadi setelah serangkaian musibah yang sulit diterima siapapun juga. Harus diakui, respon masyarakat kali ini adalah luar biasa.
Namun apakah ini hanya sebatas jargon belaka? Tak adakah tindakan lain yang dapat kita lakukan untuk Indonesia tercinta ini?
Memang sulit untuk mengharapkan sebuah tindakan besar dari sebuah masyarakat yang baru saja trauma atas serangan bom yang sudah kesekian kalinya (memang bukan sekali ini saja Indonesia mendapat teror bom). Akan tetapi sebuah semangat yang diusung masyarakat (kebanyakan dari pengguna internet) sudah bisa menggambarkan bahwa–paling tidak–rasa nasionalisme mereka naik di tengah-tengah situasi ini. Situasi di mana rasa nasionalisme yang–mungkin–selama ini terpendam sangat dibutuhkan untuk dibangkitkan kembali. Bom ini dirasa sebagai pemicu munculnya kegairahan untuk membela tanah air kembali. Seperti yang selalu dicita-citakan para pendiri bangsa ini.
Bom ini terkutuk. Tapi bom ini juga melahirkan ide-ide baru, gagasan-gagasan baru, serta memunculkan rasa nasionalisme yang lama terpendam. Semoga rasa ini tidak hanya terluapkan pada momen ini saja. Semoga rasa ini timbul bukan karena emosi sesaat yang nantinya juga bakal hilang lagi. Semoga rasa ini muncul bukan karena tren yang tiba-tiba menjadi layak untuk diikuti.
Semoga kita semua bisa menjaga rasa ini. Dan nantinya rasa ini bakal mengantarkan ibu pertiwi untuk bisa menjadi lebih kuat sehingga dunia internasional akan menyegani kita semua.
Mungkin kemarin ibu pertiwi menangis, tapi sekarang ibu pertiwi pasti tersenyum. Senyum bahagia campur pengharapan.
Bagaimanapun juga, terima kasih, pak teroris. Yang telah menuntun bangsa ini menuju persatuannya.
Tidak seperti biasanya, aku berangkat ke travel yang sudah kupesan dengan tidak terburu-buru. Jauh lebih pagi dari jadwal. Aku tak tahu mengapa, tapi yang kupikirkan saat itu hanyalah keinginan untuk menghilangkan kebiasaan jam karet yang banyak dilakukan oleh orang-orang Indonesia.
Saat itu aku sedang berada di Bandung, dan travel yang kupesan bertujuan ke Jakarta. Maksud kedatanganku ke Jakarta pada awalnya adalah untuk menonton pertandingan Manchester United versus Indonesia All-Star yang tadinya bakal diselenggarakan Senin, 20 Juli 2009.
Tentu saja aku terlalu cepat datang ke tempat travel, namun sesampainya di sana ada sesuatu yang terlupakan, struk pembelian tiket yang “wajib dibawa” itu tertinggal! Tanpa pikir panjang, aku langsung kembali ke pondokan tempatku tinggal di Bandung untuk mengambil selembar kertas lusuh tersebut karena sesungguhnya makna kepergianku ke Jakarta ada padanya.
Bolak-balik antara tempat travel dan pondokanku; hasilnya lumayan melelahkan. Ah, tidak. Melelahkan sekali. Namun itu semua kulakukan dengan ikhlas, tahu kenapa? Karena kepergianku ke Jakarta jadi tidak sia-sia. Paling tidak itulah yang ada di benakku pada saat itu.
Dan rentetan peristiwa pemboman yang terjadi di Jakarta mengubah apa yang ada di benakku itu ketika aku telah sampai di Jakarta, tepatnya ketika aku sedang makan siang di sebuah warung. Salah seorang pembawa berita televisi swasta nasional yang cukup kondang, Najwa Shihab, mengirim pesan lewat situs Twitter yang isinya “After seeking advice from various parties, including the Foreign Office, MU confirmed they would not be flying to Jakarta tomorrow.” Dan dalam beberapa detik kebisuanku hanya bisa dikalahkan oleh segelas es teh manis yang kupesan tadi.
Detik berikutnya yang kulakukan adalah mempraktekkan teknik “olah rasa” yang telah kupelajari pada diklat PROKM. Aku harus bisa menerimanya. Dan ternyata itu tidak terlalu sulit. Walau rasa kesal itu tidak bisa dimusnahkan sepenuhnya.
Sebenarnya apa tujuan mereka—para teroris—dalam kasus pemboman itu? Sampai merenggut banyak korban jiwa, sampai-sampai membuat imej keamanan Indonesia di mata dunia menjadi bertambah parah. Sampai-sampai membatalkan kunjungan sebuah tim sepak bola kelas dunia ke negara yang sangat menantikannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teroris berarti “orang yg menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik”. Dalam bahasa mudahnya, teroris itu orang yang menimbulkan teror.
Rasa takut timbul ke masyarakat jika masyarakat ditakut-takuti. Dan untuk menakut-nakuti masyarakat, dibutuhkan alat yang mampu menyebarkan “hal yang bisa menakut-nakuti tersebut” dengan luas dan cepat. Alat tersebut pastilah media massa.
Media massa hanya mau menampilkan berita yang menarik-menarik saja. Maka para teroris itu membuat sensasi ini menjadi sebesar mungkin. Tanggal pengeboman dijatuhkan ketika Indonesia baru saja menggelar pilpres 2009 dan akan menyambut acara-acara besar yang banyak melibatkan partisipasi olahragawan serta musisi kelas dunia seperti pertandingan persahabatan Manchester United versus Indonesia All-Star, InterMusic Java Rockin’ Land, dan Beatfest ‘09. Pembatalan acara-acara tersebut akibat serangan bom beruntun pasti bakal menyedot perhatian seluruh dunia ke Indonesia. Dan tercapailah misi si teroris untuk “menimbulkan rasa takut”.
Tapi benarkah misi tersebut berhasil? Sebenarnya tidak persis begitu.
Paling tidak masyarakat pengguna internet Indonesia menunjukkan tekad-tekad untuk berani melawan para teroris. Mereka menulis blog, memperbaharui status facebook, menyebarkan lewat twitter, atau plurk segala kata-kata yang intinya tentang kesiapan mereka dalam melawan teroris. Dalam sekejap tag #indonesiaunite melejit ke urutan pertama pada Trending Topics Twitter, mengalahkan topik-topik lain yang masih hangat di dunia seperti Harry Potter atau pemilu Iran. Tidak juga ketinggalan, tag #wearenotafraid diluncurkan untuk menunjukkan keberanian bangsa Indonesia dalam melawan segala tindakan keji dari para teroris.
Belum lagi banyak para pengguna twitter yang mengganti profile image mereka dengan foto mereka yang timbul seperti tanda air di antara latar bendera merah-putih. Ada juga rapperseperti Pandji Pragiwaksono yang langsung mengeluarkan lagu “Kami Tidak Takut” yang liriknya menegaskan keberanian dari segenap bangsa Indonesia dalam melawan segala tindak terorisme ini.
Inti dari segala kekuatan ini hanya bakal kita dapatkan jika kita bersatu. Dengan bersatu, terbukti tag #indonesiaunite bisa menjadi nomor satu di dunia. Kenapa kita tidak yakin untuk melawan para teroris ini yang pasti hanya terdiri dari segelintir orang saja. Bandingkan dengan jumlah seluruh penduduk Republik Indonesia.
Teror sana sini. Bom meledak dan ditemukan. Kalau benar yang diinginkan para teroris itu hanya “menyebarkan rasa takut”, menurutku mereka tidak terlalu berhasil.
Terakhir, penghormatan yang seluas-luasnya pantas diberikan bagi semua korban dalam rentetan kasus pengeboman ini. Semoga yang terbaik bagi mereka.
Gambar diambil dari sini.
Many forms of government have been tried and will be tried in this world of sin and woe. No one pretends that democracy is perfect or all-wise. Indeed, it has been said that democracy is the worst form of government except all those other forms that have been tried from time to time.
Winston Churchill.
Yeah. Mr. Churchill pun berkata begitu.
Kita memang hidup di negara yang menganut sistem demokrasi, sistem yang dikatakan oleh Mr. Churchill sebagai sistem yang terburuk kecuali dari sistem-sistem yang telah dicoba sebelumnya. Memang sistem ini memiliki banyak kebobrokan dilihat dari berbagai sudut.
Tujuan awal dari sistem demokrasi sebenarnya adalah untuk meletakkan kedaulatan rakyat di tempat tertinggi atas negara yang diatur oleh pemerintah.
Kedaulatan rakyat? Ya, benar. Bahkan demokrasi sendiri berasal dari kata demos yang artinya rakyat dan kratos/cratein yang artinya pemerintahan.
Lalu apa yang dimaksud kedaulatan rakyat di sini? Sebatas hak memberikan suara di pemilukah?
Sayangnya jawabannya dari pertanyaan tersebut mendekati “ya”. Kedaulatan rakyat yang diartikan di demokrasi–terutama di Indonesia–lebih banyak diartikan sebagai kebebasan memberikan suara pada pemilu. Makanya pemilu sering disebut-sebut sebagai “pesta demokrasi”.
Demokrasi sendiri sebenarnya berawal dari Yunani Kuno pada abad ke-5 SM. Dahulu sistem ini sangat diperlukan untuk mengontrol kekuasaan pemerintah yang terlalu semena-mena sehingga tidak mampu memberikan keadilan dan kemakmuran pada rakyat. Dan sistem ini berjalan dengan sangat baik.
Bagaimana dengan sekarang?
Rakyat tetap tidak merasakan keadilan dan kemakmuran, orang-orang yang mempunyai kekuasaan terus bertindak semena-mena terhadap rakyat jelata, dan–bahkan–untuk ajang aspirasi kebebasan demokrasi satu-satunya seperti pemilu pun diwarnai dengan banyak kecurangan. Jadi, apa bedanya sistem ini dengan sistem yang lainnya? Bukankah kelebihan dari sistem demokrasi adalah karena sistem ini mampu meletakkan kedaulatan rakyat di tempat tertinggi dalam suatu negara? Lalu kenapa di sini malah rakyat yang tertindas?
Yang bisa diharapkan oleh rakyat dari demokrasi (dengan keadaan sekarang) adalah pergantian pemimpin yang berlangsung tiap lima tahun sekali. Setiap ada pemimpin baru muncul dengan kualitasnya yang sangat buruk yang bisa dilakukan rakyat hanyalah menanti lima tahun berlalu sambil berharap lima tahun kemudian pemimpin tersebut digantikan oleh sosok lain yang lebih baik. Dan rakyat benar-benar menjadi menjadi pelaku yang pasif di sini. Mereka memilih, tapi tak bebas memilih. Yang bisa mereka pilih hanyalah mereka yang sudah dapat dipilih, dan tidak setiap dari mereka sudah mewakili semua aspirasi rakyat. Bagaimana ini mau dibilang sebagai sistem yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat?
Di lain waktu, ketika pemimpin yang terpilih (oleh rakyat tentu saja) adalah pemimpin yang baik–lagi-lagi–rakyat hanya bisa berharap pada lima tahun lagi, berdoa agar pemimpin mereka tidak diganti. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berharap. Tidak ada yang lain.
Inilah kelemahan utama dari demokrasi di Indonesia. Rakyat berharap dapat mengubah negara lewat pemilu yang mereka tentukan, padahal yang bisa mereka ubah lewat pemilu hanyalah sosok pemimpinnya saja. Bukan sistemnya secara keseluruhan. Padahal sistem secara keseluruhan dapat lebih mempertahankan kekuatan negara secara berkesinambungan.
Rakyat Indonesia pun terbodohi. Dan mereka yang membodohi telah sukses membuat ribuan rakyat negara ini menjadi bodoh.
Atau pembodohan yang terselip dalam sistem demokrasi di negara ini hanyalah sebuah kecelakaan?
Kini rakyat Indonesia menjadi terlanjur cinta pada satu sosok. Satu figur. Tanpa sadar sosok tersebut tidaklah bekerja sendirian. Ia bekerja sebagai sebuah tim. Dan ketika tim tersebut pecah, bisakah sosok tersebut bekerja dengan sama baiknya seperti sebelumnya?
Ah, rumit sekali!
Sumber gambar: www.npsnet.com
Negara kaya ini sedang memilih pemimpin baru. Entah siapa yang bakal terpilih. Apakah yang lama bakal kembali mengenyam kursi empuk kekuasaan lagi atau yang baru bakal berkuasa dengan menggeser yang lama?
Negara ini besar dan subur. Sayangnya rakyatnya mudah diperalat. Ada juga yang tidak mudah diperalat, tapi sangat senang jika dirinya bahagia tanpa mempedulikan orang lain. Yang lain biarlah miskin terinjak-injak, tapi yang kaya harus tetap berkuasa. Hidup itu roda? Itu tak boleh terjadi.
Negara ini sudah pernah punya enam pemimpin. Semuanya orang besar. Semuanya orang yang dihormati. Semuanya punya nama. Sayangnya itu berlaku hanya bagi beberapa kalangan saja.
Negara ini sedang mencoba untuk memperbaiki diri. Salah satunya dengan mengadakan pesta demokrasi, Pemilihan Umum–begitu sebutannya–untuk memilih pemimpin yang baru, sedang berlangsung.
*
Sayang pesat demokrasi ini berjalan terlalu hambar. Yang berpesta hanya sebagian kalangan saja. Bukannya rakyat turut senang dalam menyambut pesta ini, yang kebagian senangnya justru hanya mereka-mereka yang (sebentar lagi) akan mengenyam kursi kepemimpinan baru mereka. Itu pun bagi yang menang saja. Padahal yang kalah pun sebelumnya sudah banyak berkorban. Jutaan rupiah dihambur-hamburkan untuk menghiasi seluruh penjuru kota dengan gambar-gambar mereka. Maksudnya jelas: agar rakyat mengenal mereka. Sadarkah mereka bahwa ada perbedaan yang jelas antara kenal dan sekedar tahu?
Rakyat-rakyat dibuat bingung dengan kertas yang harusnya jadi tempat mereka menentukan siapa pilihan mereka. Daftar calonnya terlalu banyak. Pantas saja ukuran kertasnya raksasa semua. Sudah raksasa, ada yang dua lembar pula. Coba bayangkan, berapa biaya cetak untuk satu lembar saja? Kalikan dengan yang perlu dicetak untuk seluruh rakyat di negara besar ini.
Lalu kenapa calonnya harus sampai sebanyak itu? Bukankah di mana-mana yang namanya calon pemimpin itu hanya beberapa orang saja?Beberapa orang yang seharusnya sudah melewati berbagai saringan yang telah dilewati mereka?
Banyak rakyat yang mau memilih terpaksa tidak jadi memilih hanya karena kesalahan (atau kesengajaan?) dari pihak-pihak tertentu. Mereka yang telah menunggu-nunggu hari ini selama bertahun-tahun harus dipupuskan impiannya karena nama mereka tak ada dalam daftar pemilih. Padahal beberapa di antara mereka sudah jelas-jelas terdaftar sebagai warga selama lebih dari lima belas tahun lamanya. Bagaimana bisa nama mereka tak ada di dalam daftar?
Sedangkan mereka-mereka yang namanya ada dalam daftar malah banyak yang tak mau menggunakan hak pilih mereka. Sadarkah mereka, ini bukanlah sekedar hak untuk memilih, tapi juga kewajiban untuk memilih. Saat negara hancur mereka-mereka berkoar ke sana kemari, namun saat negara butuh bantuan mereka untuk meilih pemimpin mereka-mereka juga justru mereka malah mengacuhkannya.
Ada juga yang namanya masuk daftar pemilih, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam Pemilihan Umum. Akhirnya dengan nekat ia datang ke Tempat Pemungutan Suara, dan mendapati dirinya sendiri kebingungan di bilik suara. Alhasil yang dilakukannya hanyalah mencentang asal-asalan calon-calon yang ia tidak kenal sebelumnya dan membuat mereka yang lain yang menjalani Pemilihan Umum ini dengan serius harus menunggu antre masuk bilik suara lebih lama lagi.
Aneh.
*
Katanya negara ini mau pemimpin yang terbaik, tapi rakyatnya sendiri saja tidak bisa memilih dengan baik.
Katanya negara ini mau berubah, tapi yang dituntut hanyalah perubahan dari orang lain saja.
Negara ini sudah terlalu bobrok, sebentar lagi pasti hancur lebur.
Siapapun, tolong, selamatkan negara ini.
Masalah tentang kehidupan manusia sering mengusik pikiranku. Satu di antaranya yang menjadi langganan adalah tentang sejarah awal mula berdirinya manusia di muka bumi ini.
Darwin mencoba menerangkannya lewat teori evolusi. Tapi lantas banyak kalangan agamis yang langsung menyanggah teori ini mentah-mentah. Lalu mulai muncul kalangan ilmuwan yang ikut menyanggahnya dengan alasan ini dan itu.
Untuk menelusuri bagaimana terciptanya manusia di muka bumi ini, ada baiknya kita menelusuri terlebih dahulu bagaimana genus Homo dapat terbentuk di muka bumi ini. Beberapa kalangan menilai ini dimulai dari pecahnya spesies kera di Afrika. Salah satu dari spesies kera tersebut mulai berjalan dengan dua kaki, ini mengindikasikan bahwa bentuk tubuh mereka mulai menyerupai manusia. Tidak hanya itu, ukuran otak mereka juga bertambah besar dan mereka mulai dapat memanfaatkan benda-benda seperti batu atau tulang sebagai alat untuk membantu perburuan. Spesies kera inilah yang diperkirakan akan berkembang dan menyandang predikat genus Homo. Namun teori kemunculan Homo di Afrika ini masih bersifat terlalu spekulatif karena ditemukannya Homo-homo lainnya yang terdapat di wilayah yang berbeda dan tidak memiliki hubungan keturunan dari Homo yang di Afrika.
Tapi ada keunikan lain yang memberi petunjuk bahwa manusia memang berasal dari Afrika. Petunjuk ini didapat dari penelitian tentang keanekaragaman DNA manusia di seluruh dunia. Setelah diteliti, ternyata Afrika merupakan benua yang memiliki tingkat keanekaragaman DNA terbesar di dunia. Sementara tingkat keanekaragaman di belahan dunia yang lain dapat dikatakan nyaris sama. Apa artinya ini? Ini memberi petunjuk pada kita bahwa kelompok-kelompok manusia awal berasal dari Afrika dan sebagian besar dari mereka tetap menetap di sana. Namun ada beberapa kelompok yang mencoba untuk pergi mengembara menuju luar Afrika. Kelompok ini hanyalah sebagian kecil dari kelompok manusia di Afrika pada saat itu. Karena kelompok yang pergi keluar Afrika hanya sebagian kecil saja, maka perkawinan yang terjadi pun hanya di antara kelompok kecil tersebut. Sehingga tingkat keanekaragaman DNA di luar Afrika menjadi tidak terlalu beragam. Ditemukannya fosil manusia modern tertua di Omo Kibish, Ethiopia, mendukung teori ini. Fosil ini diperkirakan berumur 195.000 tahun.
Penelitian lain yang masih seputar DNA manusia adalah penelitian tentang mitokondria dan kromosom Y. Mitokondria, salah satu organel sel yang terdapat dalam setiap sel manusia murni diturunkan oleh ibu kepada anaknya. Tidak pernah ditemukan kasus bahwa seorang ayah menurunkan mitokondria kepada anaknya. Sedangkan kromosom Y hanya dimiliki oleh laki-laki saja. Inilah kromosom yang menentukan jenis kelamin seorang manusia. Susunan kromosom manusia normal adalah XX atau XY. Satu kromosom X pasti disumbangkan oleh sang ibu, tapi seorang ayah bisa menyumbangkan kromosom X atau kromosom Y. Maka jika seorang anak laki-laki muncul dari suatu perkawinan maka kromosom Y yang dimiliki si anak pasti berasal dari ayahnya.
Ilmuwan mulai meneliti jejak dari DNA mitokondria (mtDNA) dan kromosom Y ini. Ternyata setelah banyak penelitian dilakukan dicapailah sebuah kesimpulan bahwa seluruh mtDNA di setiap manusia di muka bumi ini berasal dari seorang ibu yang sama yang berasal dari Afrika. Begitupun juga dengan seluruh kromosom Y di setiap anak laki-laki di bumi ini, yang ternyata juga berasal dari seorang ayah yang sama, juga dari Afrika.
Ilmuwan menyebut kedua pasangan ini bukanlah satu-satunya “laki-laki dan perempuan” yang hidup pada masa itu, namun penelitian ini telah menunjukkan bahwa terdapat satu rantai yang tak terputus yang berasal dari sepasang manusia hingga menjadi populasi manusia di bumi sekarang ini yang jumlahnya mencapai ratusan juta.
Mari kita kaitkan kesimpulan dari penelitian ini dengan agama. Mungkinkah perempuan yang mewarisi mtDNA ke setiap perempuan di bumi pada saat ini adalah Hawa dan apakah laki-laki yang menurunkan kromosom Y-nya ke setiap anak laki-laki saat ini adalah Nabi Adam?
Sejak kecil aku diajarkan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama di bumi. Tapi benarkah itu?
Saat aku masih menginjak masa SMA salah satu guruku pernah menyebutkan bahwa Nabi Adam bukanlah manusia pertama. Pada saat itu, bagiku ini adalah pernyataan yang lumayan kontroversial. Dan aku suka sekali dengan kontroversi.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” – Q.S. Al-Baqarah: 30.
Di sini ada keanehan ketika para malaikat kelihatan sedikit memprotes keputusan Allah untuk menurunkan Adam ke muka bumi. Padahal malaikat hanya melakukan apa yang telah diperintahkan Allah. Ini, mungkin, mengindikasikan bahwa sebelumnya pernah ada “manusia” sebelum Nabi Adam yang diturunkan ke bumi. Dan berdasarkan ayat itu juga diperlihatkan bahwa “manusia” tersebut selalu berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah. Kalau teori ini benar bisa jadi yang dimaksud adalah spesies Homo yang lainnya yang belum mencapai fase manusia modern (Homo sapiens).
Sebelum ayat-ayat yang menceritakan penciptaan Adam dari tanah liat juga terdapat ayat yang isinya:
“Dan sungguh, Kami mengetahui orang yang terdahulu sebelum kamu dan Kami mengetahui pula orang yang terkemudian.” – Q.S. Al-Hijr: 24.
Siapa “orang yang terdahulu”? Dan siapa “orang yang terkemudian”?
Hanya Allah yang tahu jawabannya.



Baru-baru ini, situs jejaring sosial terpopuler di dunia, Facebook, mengeluarkan versi “ringan”-nya yang diberi nama Facebook Lite. Awalnya, 



