Ramadan: Variabel yang Berbeda

Ramadan: bulan itu datang bersama kurma dan lagu islami yang makin marak di pusat perbelanjaan. Kurma dan lagu islami membawa maksud yang berbeda: kurma bertindak sebagai simbol buah kesukaan Nabi, yang tentunya akan sangat laris jika dijual di bulan ketika sangat dianjurkan untuk menjalankan sunahnya, sedangkan lagu islami menambah nuansa rohani menjadi lebih kental, membuat tiap orang tak akan lupa bahwa saat itu adalah Ramadan. Bulan suci kadang harus dikondisikan.

Di bulan suci ini, setiap Muslim diperintah untuk menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Menghindari kerongkongan dari makan dan minum selama kurang lebih dua belas jam, menjaga pandangan dari segala yang dapat menerbitkan nafsu, serta menahan diri untuk tidak bersenggama selama matahari masih terlihat mata; semua itu harus dilakukan demi afdalnya ibadah yang merupakan rukun Islam nomor tiga—dari lima rukun Islam yang ada.

Di Indonesia, negara dengan Muslim terbanyak di dunia, Ramadan dilalui dengan penuh ritual. Di negara ini, setiap Muslim yang berpuasa musti dihargai. Tempat hiburan malam, yang biasanya dipenuhi cewek-cewek pengumbar aurat dan minuman-minuman yang bikin mabuk, harus ditutup; atau akan ada yang sebagian masyarakat yang datang menutupnya dengan dalih “menertibkan”. Tidak hanya itu, setiap tempat makan yang buka di siang hari “harus” memasang tirai atau papan—agar yang sedang makan di dalam jadi tak terlihat oleh yang sedang berpuasa di luar—sehingga menjaga nafsu menjadi perkara yang lebih mudah. Di negara ini, tempat Islam menjadi agama milik mayoritas, minoritas harus “menghargai” kehadiran bulan suci ini. Toleransi menjadi harga mati.

Muslim di Indonesia mendapat begitu banyak kemudahan dalam menjalankan Ramadan. Ketika siang hari, kebanyakan penjual makanan—yang kebanyakan juga ikut berpuasa—memilih untuk tutup daripada dagangannya tidak laku atau imannya tergiur oleh barang jualannya sendiri. Mereka lebih memilih buka pada malam hari, dimulai dari waktu menjelang Magrib, ketika banyak orang yang berpuasa akan bersorak girang mendapati puasanya telah tamat untuk hari tersebut. Orang-orang yang hendak berbuka puasa tersebut dilayani dengan begitu banyak pilihan hidangan—mulai dari kolak biji salak hingga es campur. Perut yang kosong tak diisi apapun sejak Subuh langsung diserbu oleh berbagai kuliner yang mungkin malah jarang dicicip di bulan selain Ramadan. Mungkin mereka menganggap ini sebagai “bayaran” atas puasanya selama siang hari.

Dilihat dari esensi, “menjaga nafsu” yang seharusnya menjadi predikat utama di bulan Ramadan tidak sepenuhnya dijalani oleh semua orang. Mereka hanya “menyimpan nafsu” selama siang hari, dan langsung mengumbarnya sebagai balasan ketika bedug pertanda Magrib mulai dipukul. “Menjaga nafsu” yang dimaksud hanya dilakukan selama setengah hari saja, yaitu sejak Subuh hingga Magrib. Di malam hari, nafsu seakan boleh untuk kembali diumbar. Ramadan ketika “nafsu terjaga” hanya berjalan setengah hari.

Di bulan Ramadan, seakan ada yang berbeda dari wajah Indonesia. Di bulan ini, wajah Indonesia seakan memakai topeng yang akan kembali dilepas ketika Ramadan telah usai. Kembali pada realita, bahwa diri bukan orang yang begitu alim.

Ada yang bilang bahwa Ramadan adalah media pelatihan diri bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri di tiap tahunnya. Ramadan adalah ajang untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi sebelas bulan ke depan. Di Ramadan, nafsu coba dijaga sambil berharap sebelas bulan seterusnya akan tetap demikian.

Namun Ramadan adalah variabel yang berbeda. Di bulan ini, terlalu banyak peubah yang diubah sehingga ketika bulan lain tampak berbeda, mereka yang tak terbiasa akan menyerah.

Jalan mudah yang diterima orang-orang yang berpuasa selama Ramadan seakan mengingkari jati diri sebenarnya dari bangsa yang aslinya rusak ini. Kemudahan yang diterima selama sebulan harus dibayar dengan cobaan yang jauh lebih berat di sebelas bulan yang lain.

Jika memang Ramadan adalah tempat untuk pelatihan—atau persiapan—diri untuk menghadapi sebelas bulan ke depan, perlukah menjadikan bulan ini spesial dengan menggunakan topeng hanya pada waktu tersebut? Sementara di waktu yang lain, kita hanyalah wujud bejat yang melarat yang hanya bisa menjaga nafsu dengan mengemis toleransi dari seisi negara, menjadikan kita semua bersembunyi di balik topeng yang sangat tebal.


Benar atau Salah Nyonya Siami

Al, murid Sekolah Dasar Negeri Gadel 2 yang mengira bahwa mencontek adalah salah, menangis tersedu-sedu ketika melaporkan tindakan “salah” yang dilakukan gurunya kepada ibunya, Nyonya Siami, wanita berjilbab yang juga yakin bahwa mencontek adalah salah. Al diperintah gurunya untuk memberi contekan kepada teman-temannya di Ujian Nasional.

Nyonya Siami tidak ingin keburukan (sesuatu yang sering dianggap abstrak dan mengawang-awang) tertanam dalam diri anaknya, Al. Dia melaporkan hal ini kepada mereka yang berwenang. Kepala Sekolah dan dua guru dicopot dari jabatannya oleh Wali Kota Surabaya karenanya.

Namun, yang terjadi berikutnya adalah hal yang tidak diduga-duga oleh Nyonya Siami. Ratusan warga Kampung Gadel Sari murka kepada tindakan yang diperbuat Nyonya Siami. Mereka menilai Nyonya Siami “tak punya hati nurani”.

Nyonya Siami adalah orang yang salah, atau disalahkan. Tindakannya membangkitkan amarah dari masyarakat. Perbuatannya tidak disenangi mayoritas, atau hanya yang tampak saja. Di permukaan, dia tampak penuh cela.

Pendirian Nyonya Siami bahkan bisa goyah karena keadaan. Masyarakat tak henti-hentinya mengutuk sambil berulang kali meneriakkan kata, “Usir! Usir!” Nyonya Siami tidak lagi diterima oleh masyarakat. Dia sudah menjadi orang yang terbuang karena dituding berlagak sok pahlawan.

Ujian Nasional memang didesain pemerintah untuk dilalui setiap murid tanpa mencontek. Namun, tampaknya warga Kampung Gadel Sari tidak peduli kepada apa yang telah ditetapkan pemerintah.

Paulo Coelho pernah menulis kisah tentang raja dan mata air yang membuat peminumnya gila di Veronika Decides to Die. Di sana dikisahkan seorang penyihir meracun mata air yang diminum oleh seluruh kerajaan, kecuali raja dan keluarganya, sehingga membuat setiap peminumnya gila. Seketika, seisi kerajaan menjadi gila, kecuali raja dan keluarganya. Raja cemas dan langsung mengeluarkan serangkaian maklumat yang mengatur keamanan dan kesehatan publik. Namun, polisi dan inspektur juga sudah gila, dan mereka menganggap yang dilakukan raja adalah sesuatu yang ”gila”. Begitupun juga dengan penduduk kerajaan yang lain. Mereka lantas menuntut raja untuk turun dari tahtanya. Saat raja sudah akan merelakan tahtanya turun, ratu menyuruh raja dan seluruh keluarganya untuk ikut meminum air dari mata air pembuat gila. Seketika, mereka ikut bertingkah laku gila seperti yang lain. Raja pun tidak jadi turun dari tahta.

Cerita tersebut bisa memberi kita pelajaran bahwa benar dan salah adalah nilai yang timbul dari mayoritas masyarakat. Nilai itu tidak tertulis di hukum alam yang bahkan tak tampak, namun nilai tersebut merupakan wujud dari pribadi masing-masing masyarakat. Kecenderungan yang dominan menentukan nilai benar dan salah di suatu kalangan.

Dalam hal ini, warga Kampung Gadeng Sari memilih mengklasifikasikan perbuatan Nyonya Siami sebagai sesuatu yang “salah”. Namun, Prof. Daniel Rosyid, Ketua Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Tandes, menilai perilaku wargalah yang “salah”. Beliau bilang bahwa warga “sakit”. Beliau menyalahkan nilai yang dominan di masyarakat Kampung Gadel Sari.

Nilai benar dan salah yang dipegang warga Kampung Gadeng Sari dan Prof. Daniel Rosyid (beserta Nyonya Siami) masih bisa diperdebatkan. Nilai ini bisa dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, misalnya ke tingkat agama atau negara. Suatu penentuan nilai benar dan salah yang berada pada lingkup masyarakat yang lebih luas lagi.

Yang diyakini warga Kampung Gadel Sari (benarkah mereka yakin?) bertentangan dengan apa yang kebanyakan masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Namun, apa yang diyakini warga Kampung Gadel Sari bisa menjadi racun seperti yang dilakukan penyihir kepada mata air yang menyebabkan seisi kerajaan jadi gila. Nilai bisa berubah, karena “benar dan salah” pun bersifat dinamis. Keyakinan mencontek itu benar yang diusung para pemrotes pengaduan Nyonya Siami bisa saja meruntuhkan keyakinan masyarakat yang lebih luas yang tadinya berpegang pada nilai yang sebaliknya.

Jika hal itu benar-benar terjadi, maka berarti seisi negara ini—seperti kerajaan yang dikisahkan dalam Veronika Decides to Die—sudah jadi gila semua.

Referensi: Kisah Nyonya Siami di portal berita Surya.


Eyang Kung

Namanya Bintoro Tjokroamidjojo. Beliau lahir di Desa Toeksongo, Kota Puworejo pada hari Sabtu Kliwon tanggal 6 Juni 1931. Beliau merupakan anak laki-laki satu-satunya dan sulung dari tiga bersaudara. Orang-orang biasa memanggilnya Pak Bin atau Mas Bin atau Prof. Bin. Aku sendiri memanggilnya Eyang Kung. Beliau adalah kakekku.

Eyang Kung wafat pada tanggal 14 Juni 2009 karena sakit. Pada akhir hayatnya, Eyang Kung memang sering keluar-masuk rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang terus menurun.

Aku cukup banyak mendengar cerita tentang Eyang Kung, dan aku sempat menyangka kalau aku telah banyak mengetahui soal kehidupan beliau. Namun, ternyata aku salah. Ternyata, yang kutahu barulah secuil kisah hidupnya. Di balik itu, Eyang Kung masih menyimpan banyak kisah luar biasa lainnya yang telah beliau alami semasa hidupnya.

Eyang Kung adalah putra dari Mas Binadji Tjokroamidjojo dan Rr. Chatimah Djojowinoto. Kedua adik perempuannya bernama Bintari dan Binarti. Di kemudian hari, ada semacam tradisi di keluarga untuk memberikan nama yang mengandung awalan “Bin-” yang masih terus berlanjut hingga sekarang.

Bapak dari Eyang Kung (kakek buyutku) ditembak mati tentara Belanda pada Juli 1947 di pinggir Kali Pemali, Brebes.

Pada suatu hari yang mencekam Bapak dijemput tentara Belanda. Sempat memeluk Ibu, Ibu menangis. Setelah itu ya tidak ada kabar lagi. Mengetahuinya kalau ditembak mati, lama setelah itu, diberitahu kurir rahasia dari Republik. [1]

Kini, tempat kakek buyutku ditembak mati diberi nama Jalan Binadji. Ketika masih kecil, aku pernah mengunjunginya sekali, walau sekarang sudah lupa sepenuhnya akan bentuk rupa tempat tersebut.

Setelah kematian kakek buyut, Eyang Kung hidup terpuruk bersama keluarga. Berjualan taplak, kerupuk, dll. Namun, satu yang coba dipertahankan: pendidikan.

Sebelumnya, Eyang Kung sudah menamatkan pendidikan dasarnya di ELS (Europese Lagere School) di Temanggung dan Sekolah Rakyat Sempurna di Pemalang. Setelah lulus, Eyang Kung melanjutkan pendidikannya di SMP Pekalongan. Selepas SMP, Eyang Kung mendaftar dan diterima bersekolah di SMA PIRI (Perguruan Islam Republik Indonesia) di Yogyakarta. Desember 1948, Yogyakarta diserang dan diduduki Belanda. Eyang Kung terpaksa mengungsi dan pindah sekolah ke Salatiga. Kemudian, beliau pindah lagi ke Semarang dan menamatkan SMA-nya di sana.

Setelah lulus SMA, Eyang Kung pergi ke Jakarta. Pada saat itu, keluarga pada umumnya menyarankan untuk tidak melanjutkan sekolah melainkan mencari pekerjaan. Adalah Bude Kam (panggilan Eyang Kung untuk kakak perempuan ibunya) yang mendorong Eyang Kung untuk bersekolah di perguruan tinggi. Eyang Kung akhirnya diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan mendapat beasiswa.

Di Jakarta, Eyang Kung kembali bertemu dengan wanita yang dikenalnya di Salatiga dulu. Dia adalah Latifah Hanoum Harahap. Wanita yang kemudian dinikahinya pada tanggal 9 Januari 1959.

Tanggal 9 Januari 1957, karena ya sudah setuju semuanya maka kami bertunangan. Sebetulnya ya “setuju”, tetapi banyak yang heran, karena saya mendobrak kebiasaan lama. Dari keluarga saya, boleh dikatakan perkawinan 100 persen ya dengan orang Jawa, bahkan 60 persen antar keluarga, 20 persen antar keluarga dekat (sepupu). Lho ini kok bukan dengan orang Jawa, dari tanah Batak lagi. Mandailing sebetulnya. Tapi sama-sama beragama Islam—itu dasarnya. [2]

Pada tahun 1955, sepuluh sampai lima belas mahasiswa program Sarjana FEUI direkrut untuk bekerja di Biro Perancang Negara. Eyang Kung termasuk di dalamnya. Di Biro Perancang Negara, ada program bantuan sekolah ke luar negeri dari USAID (dulu bernama ICA). Program ini hanya berlaku untuk perseorangan. Karenanya, Eyang Kung terpaksa meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk melanjutkan sekolahnya di University of Pittsburgh, Amerika Serikat pada pertengahan 1959.

Awal tahun 1961, Eyang Kung kembali dari AS dengan membawa gelar Master pada program studi Public and International Affairs dari University of Pittsburgh. Eyang Kung lulus dengan predikat Magna Cum Laude.

Satu babak hidup Eyang Kung yang sangat berkesan adalah ketika beliau dilantik sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Belanda. “Bapak mati ditembak Belanda, saya jadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Kerajaan Belanda,” kata beliau.

Buat saya ini adalah suatu kehormatan yang luar biasa. Pada umumnya orang India paling terhormat kalau jadi Duta Besar di Inggris (at the Court of St. James), sedangkan bagi orang Indonesia, ya di Belanda, bekas penjajahnya. Lagi pula saya merupakan Dubes sipil pertama di Belanda. [3]

Eyang Kung dilantik tanggal 27 Mei 1990. Selanjutnya, tanggal 6 Juni 1990—tepat di hari ulang tahun Eyang Kung—ditetapkan sebagai tanggal penyerahan Surat Kepercayaan kepada Ratu Belanda. Pada hari itu, beliau sudah siap dengan baju “kebesaran”-nya. Eyang Kung berangkat ke Istana Noordeinde tidak dengan mobil. Sesuai kebiasaan pada negeri kerajaan seperti Inggris, Denmark, dan Belanda pada umumnya; Eyang Kung diantar dengan kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda besar.

Sampai di Istana, Eyang Kung diterima oleh Sekretaris Ratu dan diantarkan menuju ruangan tempat beliau menyampaikan Surat Kepercayaan dengan pidato singkat serta penyampaian salam hormat dari Presiden RI kepada Ratu Beatrix.

Pertama, Ratu menyampaikan selamat ulang tahun pada saya. Wah, saya terkejut bukan kepalang. Tidak nyangka kok tau. [4]

Sebagai anak dari seorang bapak yang ditembak mati Belanda, Eyang Kung tidak membawa dendam kepada Kerajaan Belanda. Baginya, ini adalah takdir Tuhan.

Ya secara pribadi saya melacak kematian almarhum Bapak, tetapi sebagai Duta Besar tidak membawa sama sekali perasaan dendam. Biarpun sebagai kenyataan, tetap saya anggap sebagai kejahatan/kezaliman terhadap Bapak saya. Yah saya semeleh, lho wong perang. Sudah takdir Allah. [5]

Sebelum meninggal, Eyang Kung selalu berpesan untuk dimakamkan di Taman Pemakaman Jeruk Purut, tempat banyak jenazah keluarga disemayamkan. Eyang Kung menolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, walau beliau berhak. Beliau ingin dimakamkan di dekat keluarga.

Jika ditanya tentang pencapaian hidupnya, Eyang Kung pernah menjawab, “I have no regrets, saya hanya bersyukur kepada Allah SWT.”

Kisahnya yang kuketahui, mungkin baru secuil. Dan lebih sedikit lagi yang kutulis di sini. Di setiap kisah hidup manusia, selalu dapat dipetik pelajaran. Dari Eyang Kung, kisahnya mungkin memberi inspirasi bahwa hidup tak harus diisi untuk menagih ganti rugi atas kezaliman yang diperbuat terhadap kita. Biarlah Tuhan yang mengatur neraca keadilannya.

Dan di akhir masa hidupku nanti, aku juga ingin jadi seperti Eyang Kung, yang dapat dengan lugas berkata, “I have no regrets.

Catatan kaki:

[1] Bintoro Tjokroamidjojo, Bapak Mati Ditembak Belanda, Menjadi Duta Besar untuk Kerajaan Belanda (Jakarta: -, 2001), hlm. 5.

[2] Tjokroamidjojo, Op. Cit. hlm. 18.

[3] Tjokroamidjojo, Op. Cit. hlm. 71.

[4] Tjokroamidjojo, Op. Cit. hlm. 73.

[5] Tjokroamidjojo, Op. Cit. hlm. 76.


Pornografi dan Arifinto

Sejauh jejak langkah manusia di muka bumi, pornografi telah lama mengambil bagian dari sejarah. Entah sebagai seni, atau sebagai sesuatu yang dilarang.

Pornografi sering dihujat, namun pornografi juga sering didamba-dambakan. Pornografi bisa mengambil berbagai bentuk di dunia. Baik sebagai lukisan, fotografi, patung, tulisan, pertunjukkan, atau musik. Pornografi bisa terselip di mana-mana. Dan yang lebih penting: pornografi bisa muncul secara disengaja maupun tidak disengaja.

Di zaman prasejarah (pada masa Paleolitikum) sudah ditemukan peninggalan lukisan goa, ukiran, dan artefak berupa patung Venus yang menunjukkan gelagat pornografi di kalangan masyarakat kala itu. Ada juga peninggalan dari masa Mesir Kuno berupa Papyrus 55001 (sering disebut sebagai Erotic Papyrus) yang berisi 12 sketsa erotis yang menggambarkan berbagai posisi seks. Lain lagi dengan kitab Kama Sutra yang berisi manual seks yang ditulis Vātsyāyana pada abad pertama Masehi. Selain itu, di Jepang, dikenal Shunga yang merupakan bentuk seni erotis mereka yang biasanya dibuat pada potongan kayu.

Terkadang, banyak kalangan yang tak suka pada pornografi. Biasanya, mereka mengatasnamakan Tuhan untuk urusan ini.

Ketika Pompeii disapu oleh letusan Gunung Vesuvius di tahun 79 Masehi, banyak yang bilang bahwa itu adalah hukuman Tuhan terhadap masyarakat yang porno. Pompeii memang dikenal kaya akan peninggalan karya-karya seni porno.

Karena takut akan hukuman Tuhan, manusia saling melarang yang lain untuk berlaku yang mengarah pada tindak porno. Mereka buat berbagai macam hukum soal pornografi. Sampai timbul satu masalah: definisi.

Bagian tubuh mana saja yang dianggap porno? Sejauh mana bagian porno tersebut boleh disebarluaskan?

Seringkali, urusan pornografi ini akhirnya terbentur pada masalah hak asasi. Banyak yang takut pada hukuman Tuhan sementara banyak juga yang merasa perlu untuk mengumbar aurat mereka.

Negara kita, Indonesia, punya dasar hukum berupa Undang-Undang Pornografi yang telah disahkan pada tanggal 30 Oktober 2008. Selama masa penggodokannya, UU ini telah menimbulkan banyak kontroversi. Salah satu penolakan datang dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Ketua DPRD Bali Ida Bagus Wesnawa. Bahkan, ketika telah disahkan menjadi UU, Ketua DPRD Papua Barat Jimmya Demianus Ijie mengancam Papua Barat akan memisahkan diri dari NKRI jika UU tersebut tidak dibatalkan.

Polemik. Banyak yang tak sekata soal pornografi ini.

Namun, DPR tidak menggubris aksi penolakan ini. 28 Oktober 2008, naskah konsep RUU Pornografi tetap ditandatangani oleh delapan fraksi di DPR. Pada Rapat Paripurna untuk pengesahan, dua fraksi menyatakan walk out. Mereka adalah Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Fraksi Partai Damai Sejahtera (PDS). Selain itu, dua orang dari Fraksi Partai Golkar (Nyoman Tisnawati Karna dan Gde Sumanjaya Linggih) menyatakan walk out secara perseorangan.

Apapun historinya, kenyataan menyatakan bahwa negara kita telah mengesahkan UU ini sebagai dasar hukum.

UU ini langsung menemukan “korban-korban”-nya. Yang paling terkenal tentu saja skandal video seks Nazriel Irham alias Ariel, vokalis dari grup musik Peterpan. Ariel dituduh terlibat dalam skandal rekaman video yang menampilkan adegan persetubuhan antara dirinya dengan Luna Maya dan Cut Tari. Berita ini meledak di kalangan masyarakat dan disiarkan di mana-mana. Memungkinkan anak kecil yang tadinya tidak tahu menahu soal pornografi jadi terbawa ikut menonton video Ariel.

Setelah lumayan lama sejak kasus Ariel ditindak, muncul kasus baru yang tak kalah menyita perhatian masyarakat. Salah seorang Fraksi Partai Kesejahteraan Sosial atau PKS (yang dikenal sebagai salah satu fraksi yang paling giat dalam menyuarakan antipornografi), Arifinto, tertangkap kamera wartawan sedang menonton video porno lewat komputer tabletnya saat Rapat Paripurna DPR sedang berlangsung.

Tentu saja berita ini langsung menjadi bahan olok-olok massa. Yang berkoar-koar soal hukum antipornografi sendiri ternyata merupakan pelaku pornografi. Walau Arifinto sendiri menyangkalnya dengan menyebut bahwa video porno tersebut secara tak sengaja dibuka olehnya dari surat elektronik yang dia terima dari seorang anonim.

Entah disengaja atau tidak, Arifinto tetap melakukan kesalahan. Memainkan komputer tablet saat sedang Rapat Paripurna bukanlah hal yang dapat dibenarkan. Sedangkan soal motif Arifinto dalam menonton video porno tersebut, mungkin lebih baik kita berikan segala urusannya pada Tuhan Yang Mahakuasa. Yang—katanya—akan memberi hukuman seperti letusan Gunung Vesuvius terhadap masyarakat yang berlaku porno.


Cerita

Cerita fiksi ilmiah Star Wars langsung meledak menjadi sebuah fenomena budaya pop sejak film pertamanya, A New Hope (1977), beredar. Jumlah total enam film yang dikeluarkan selama rentang waktu lebih dari dua dekade ini merebak ke berbagai penjuru dunia dengan perkembangan yang luar biasa. Bagaikan teori ledakan besar, fenomena ini tumbuh menjadi tak lagi terkendali.

Di buku The Zahir, sang penulis, Paulo Coelho, menceritakan kisah tentang mengapa banyak orang yang kecewa pada film yang berdasarkan cerita dari buku. Tokoh utama pada buku tersebut percaya bahwa “setiap pembaca menciptakan filmnya sendiri di dalam pikiran, memberi wajah pada tokoh-tokohnya, membuat setiap adegan, mendengar suara-suara, mencium baunya.” Itulah mengapa mereka bisa kecewa seraya berujar, “Bukunya jauh lebih bagus daripada filmnya.”

Kita bisa mengambil inti: imajinasi ikut membangun setiap cerita yang disampaikan.

Meledaknya Star Wars juga berimbas pada ledakan imajinasi penonton. Masing-masing dari mereka ingin ikut mengambil andil dalam membangun opera luar angkasa ini.

George Lucas, sang kreator, tak lagi mampu menahan gelombang ide cerita “tambahan” itu. Star Wars tak lagi dieksklusifkan untuk George Lucas saja, setiap orang bisa turut mengembangkan cerita ini dengan membeli lisensinya terlebih dahulu. Lahirlah mitologi modern dengan latar luar angkasa bernama Star Wars Expanded Universe.

Berkat partisipasi aktif penyimak, Star Wars kini mempunyai cakupan cerita yang sangat luas dan gemuk tanpa mengabaikan kekuatan detail. Star Wars menjelma menjadi sebuah cerita yang tak cukup dijelajahi dalam waktu singkat. Mengarungi ceritanya memerlukan kedalaman dan ketulusan. Apalagi sampai katam.

Seorang katib salat Jumat pernah bilang bahwasanya cerita ikut membangun karakter bangsa. Cerita Si Kancil yang suka mencuri ketimun, mungkin juga turut memegang andil dalam pembangunan kepribadian bangsa yang bobrok ini.

Semoga katib itu tak sepenuhnya benar, namun beliau juga tak sepenuhnya salah.

Sejak bangsa ini masih bernama Hindia, ia sudah sering dianggap kerdil karena miskin akan cerita rakyat, terutama dalam bentuk tertulis. Acep Iwan Saidi bilang: menulis memang bukan budaya bangsa ini. Bangsa ini lebih suka bercerita secara lisan. Seperti orang Minang, misalnya, yang punya Tambo.

Sebenarnya, tak ada masalah dengan penyebaran cerita lewat lisan. Hanya saja, tulisan jelas lebih awet daripada lisan. Tulisan cenderung tak akan lekang oleh waktu, sementara lisan bergantung pada kesediaan dan kebisaan sang penutur cerita.

Bisa jadi kebangkitan semangat bercerita (dalam tulisan) bangsa ini baru timbul akibat kemunculan angkatan “Melayu Lama” pada medio akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Banyak cerita muncul pada periode tersebut, salah satunya adalah Njai Dasima karya Gijsbert Francis di tahun 1896.

Cerita, selain sebagai pembentuk karakter bangsa, seharusnya juga berguna sebagai sarana arsip. Jejak rekam sejarah bisa tercatat semua dalam cerita yang bakal diwariskan ke cucu-cicit. Cerita cenderung aman: selama cerita tersebut masih disukai, cerita akan terus berpindah dari mulut ke mulut, dari kepala ke kepala. Berbeda dengan dokumen yang tak akan pernah disukai, walau dibutuhkan.

Sebagai pembentuk karakter, cerita membuka ruang imajinasi. Cerita membebaskan pikiran dari belenggu batasan yang membuat diri tak bisa sepenuhnya bebas dalam berkreasi. Cerita melatih orang untuk berani bertindak.

Star Wars, lewat enam filmnya maupun cerita akbarnya yang termuat dalam Expanded Universe, telah menancapkan pemikiran-pemikiran baru kepada banyak anak manusia. Hanya karena menyaksikannya, banyak anak kecil—atau juga yang sudah dewasa—terinspirasi untuk menjadi astronot, atau lebih dari itu. Manusia menjadi semakin berani untuk bercita-cita dalam mengarungi luar angkasa, suatu ruang yang tak pernah berani—dan tak mampu—dijamah oleh umat manusia sebelumnya.

Star Wars juga menyadarkan banyak manusia bahwa alam semesta ini adalah luas. Banyak mimpi timbul karena ini.

Cerita membuat manusia berani berimajinasi. Hal ini ditunjukkan dengan nyata pada salah satu seri dari komik-strip The Adventures of TintinDestination Moon (versi Perancis: Objectif Lune).

Destination Moon ditulis 17 tahun sebelum pendaratan manusia pertama di bulan. Bahkan, sebelum manusia berhasil mengarungi penerbangan di luar angkasa. Bukan tidak mungkin, bahwa cerita inilah yang membuat manusia berani bercita-cita sampai sejauh itu.

Sayang sekali jika bangsa ini tetap menjadi kerdil karena miskin akan cerita. Bangsa ini butuh akan cerita, atau yang hanya bisa kita lakukan adalah mengambil cerita dari bangsa lain, yang mengisahkan perang luar angkasa atau perjalanan manusia ke bulan.


Organisasi

Harold J. Leavitt pernah memberitahu dunia bahwa ada keterkaitan antarunsur dalam organisasi (yang ditunjukkan melalui diagram wajik). Dunia sering mengakui bahwa hidup memang penuh dengan peubah. Dan di dalam organisasi, peubah tersebut—sejauh didefinisikan Leavitt—ada empat: manusia, teknologi, tugas, dan struktur sosial. Empat peubah yang saling berinteraksi dalam sebuah media bernama lingkungan.

Mungkin organisasi sudah ada di muka bumi sejak manusia paling primitif pertama sudah mulai hidup berkelompok. Organisasi butuh keteraturan di dalam tatanannya. Oleh karena itu, organisasi membuat pembatasan-pembatasan dengan mengendalikan keadaan teratur tersebut melalui tradisi-tradisi, atau sekedar cerita takhayul yang katanya berasal dari para dewa dan leluhur.

Namun, manusia tumbuh menjadi semakin modern. Apa yang didapat dari pendahulu, mulai tidak diterima secara serta merta begitu saja. Manusia mulai menuntut penjelasan logis untuk banyak hal, terutama: “Mengapa?”. Tradisi mulai luntur. Takhayul mulai ditinggalkan. Padahal tadinya, hal itu merupakan metode yang berguna dalam mengendalikan interaksi sosial yang terjadi dalam organisasi. Modernitas memicu manusia untuk lebih banyak bertanya.

Bisa jadi mereka terbuai. Manusia terlarut dalam keasikan mempertanyakan segalanya, termasuk hal-hal yang tadinya dianggap tidak patut untuk dipertanyakan.

Namun, kini, di masa modern, tidak ada hal yang tak patut dipertanyakan.

Adalah kesepakatan yang muncul sebagai batasan baru pada organisasi modern, pengganti tradisi yang terdahulu. Kesepakatan masuk sebagai jalan tengah, agar organisasi dapat tetap dikendalikan, namun yang mengendalikannya bukanlah sebuah pertanyaan tak terjawab.

Sejak revolusi industri meledak, dunia seperti keranjingan akan organisasi modern. Manufaktur memang membutuhkan sekelompok manusia yang terpaku dalam sistem untuk menjalankan serangkaian proses yang nantinya akan menghasilkan keluaran berupa produk. Dan organisasi (modern) muncul sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana cara memasukkan manusia-manusia tersebut dalam sebuah sistem.

Dewasa ini, kebanyakan dan hampir semua manusia sudah berada dalam sistem tersebut. Mereka semua—disadari atau tidak—sebenarnya sedang dikungkung kebebasannya oleh alat pengendali milik organisasi modern yang bernama kesepakatan.

Organisasi digemari karena ia adalah wujud dari penggabungan kekuatan menjadi suatu yang satu namun padu dan lebih kuat. Logika sederhana menyatakan 1+1=2 dan 2+2=4. Penjumlahan, selalu membuat angka hasilnya menjadi lebih besar. Organisasi ibarat operator “+” dalam matematika.

Pengikatan dibuat. Seharusnya yang berada di dalamnya menjadi patuh.

Namun, terkadang hal ini tidak berjalan mulus. Apa yang didamba-dambakan oleh organisasi—yaitu sebuah kesatuan menuju keteraturan yang diciptakan oleh pembatasan-pembatasan—sulit tercapai.

Ruang pikir manusia kembali berevolusi. Apa yang tadinya cenderung bisa menerima apa yang tidak bisa diterima, semakin mempertanyakan segala sesuatu. Hari demi hari, manusia tersebut menjadi semakin giat untuk bertanya.

Muncul satu pertanyaan yang tadinya tak tersentuh: mengapa keteraturan dalam organisasi perlu diciptakan? Jawabannya bisa berbeda-beda, tergantung mulut mana yang menjawab. Beberapa malah gagal menjawab pertanyaan ini. Kegagalan yang menyebabkan hilangnya keteraturan dalam organisasi tersebut. Imbas lebih jauhnya: organisasi hilang. Setelah itu, manusia kembali hidup sendiri-sendiri. Tanpa organisasi.

Entah mengapa, gerakan dengan jumlah penggerak lebih banyak selalu  dianggap bakal memberikan pengaruh lebih kuat dibanding gerakan dengan penggerak lebih sedikit. Mungkin hal ini muncul dari logika sederhana penjumlahan. Namun, satu yang perlu diwaspadai: organisasi tak selalu berfungsi layaknya operator penjumlahan dalam matematika.

Ketika organisasi justru melemahkan kekuatan massa yang jumlah lebih banyak, sudah seharusnya keberadaan organisasi tersebut dipertanyakan. Karena organisasi sejatinya hanya berlaku sebagai sebuah alat pencapai kebutuhan. Alat tentu akan jadi percuma jika tak berguna.

Mungkin kita semua perlu mengakui, bahwa mendesain organisasi tidaklah semudah mengerjakan operasi matematika.

* Terinspirasi dari Forum Kopi Sore bertema “Organisasi” di Himpunan Mahasiswa Sipil ITB, hari Kamis, 31 Maret 2011.


Di Balik Perang Melawan Qaddafi

Tak ada yang benar-benar tahu, siapa dalang di balik pemberontakan terhadap rezim Qaddafi di Libya. Mungkin, jawaban yang paling tepat adalah semua ini merupakan kehendak Tuhan Y.M.E.

Pemberontakan di Libya dipicu oleh gelombang protes yang memang sedang marak terjadi di Timur Tengah. Suksesnya revolusi terdahulu yang terjadi di Tunisia dan Mesir (yang masing-masing berhasil melengserkan rezim yang telah berkuasa untuk waktu yang lama) mungkin telah menginspirasi golongan anti-Qaddafi untuk menerapkan hal yang serupa di Libya.

Para pemberontak menjadikan Benghazi sebagai markas pusat mereka. Sementara Qaddafi dan antek-anteknya masih menguasai Tripoli. Kini, Libya seakan terpecah dua: daerah barat yang pro-Qaddafi dan daerah timur yang anti-Qaddafi.

Qaddafi menyebut para pemberontak sebagai “germs“—”kuman”. Dengan penuh kepercayaan diri, dia mengatakan bahwa mereka tak sepadan dengan bala tentaranya.

Menurut kabel diplomatik AS yang dibocorkan oleh situs WikiLeaks (atau dikenal dengan nama Cablegate), Qaddafi merupakan “seorang pengatur siasat ulung yang telah mendominasi negara dan suku-sukunya yang sukar dikendalikan selama empat dekade dengan berhasil memanipulasi setiap orang yang berada di sekitarnya”. Sebagai orang yang menjadi pemimpin Libya setelah melancarkan kudeta terhadap pemimpin sebelumnya, Raja Idris I, tentu Qaddafi tak akan mudah untuk digulingkan kembali.

Sementara para pemberontak adalah orang-orang yang tak jelas pada arah dan komando. Anthony Cordesman, seorang analis militer di Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berlokasi di Washington, berujar, “Yang kita punya, secara mendasar, adalah pemberontak dengan antusiasme yang besar dan mau menanggung risiko hidup mereka, namun tidak punya disiplin atau struktur.” Dan orang-orang seperti ini menghadapi jagoan perang seperti Kolonel Qaddafi.

Walau tak ada yang benar-benar tahu, kebanyakan orang akan menjawab tiga nama sebagai dalang dari revolusi melawan Qaddafi ini. Nama pertama adalah Abdel Fatah Younis, bekas Menteri Dalam Negeri kabinet Qaddafi. Yang kedua adalah Omar Hariri, jenderal yang pernah gagal menggulingkan Qaddafi pada revolusi di tahun 1975. Atau mungkin dia adalah Khalifa Heftir, seorang yang memang mahsyur sebagai “pahlawan oposisi” dan dikenal sebagai juru bicara pihak oposisi. Namun, para pemberontak kebanyakan tak akan begitu peduli pada siapa pemimpinnya, asal mereka semua berjuang untuk melawan yang satu: Sang Kolonel Qaddafi.

Sekilas, pihak oposisi terlihat lemah dibanding kekuatan Qaddafi dan para loyalis. Namun, pihak oposisi tak hanya mengandalkan kekuatan rakyat sipil yang sebelumnya belum pernah memegang AK-47 atau tentara yang membelot dan hanya berjumlah beberapa. Barat kini sudah ikut campur dalam konflik Libya. Bantuan dalam bentuk sokongan militer telah dikirimkan ke sana. Wujudnya bisa macam-macam: senjata, makanan, bahan bakar, atau pasukan. AS, Perancis, dan Inggris sudah mulai melemparkan bomnya di sana-sini.

Tentu, oposisi akan sangat terbantu dengan datangnya bantuan dari luar ini. Namun, ketulusan niat dari Barat dalam membantu menjadi dipertanyakan. Apakah dasar dari tindakan Barat dalam membantu revolusi Libya ini memang murni karena alasan kemanusiaan?

Banyak teori berkembang yang mengatakan bahwa fenomena di Libya saat ini mengukuhkan apa yang dinamakan paradoks “kutukan sumber daya”—yang terjadi di saat kekayaan hanya menjadi sumber petaka. Sebuah paradoks yang sering menjadi alasan utama para kolonial untuk menjajah tanah-tanah milik pribumi setempat, menguras segala apa yang ada di atas bumi maupun yang ada di bawahnya.

Seperti yang mungkin sedang terjadi di Libya saat ini. Gara-gara minyak.


Nyawa Mereka untuk Dunia

Negara Jepang pernah menerima bencana gempa bumi besar di tahun 1923. Gempa yang menyerang dataran Kantō tahun itu meluluhlantakkan seisi negeri dalam seketika, memakan 100.000 sampai 140.000 korban jiwa, menjadikannya bencana alam paling mematikan yang pernah menyerang Negeri Sakura. Gempa besar itu diberi angka 7,9 oleh manusia (yang disebutkan dalam Skala Richter). Angka yang katanya cukup besar untuk menghancurkan sebuah area yang amat luas.

Angka 7,9 itu mampu membunuh ratusan ribu jiwa dan mengguncang sebuah negara. Tapi itu belum seberapa. Menjelang 90 tahun kemudian, datang sebuah gempa bumi dengan angka yang lebih besar: 9,0.

Menghadapi yang diberi angka 7,9 saja sudah hancur tak keruan, apalagi yang bernilai 9,0. 11 Maret 2011, gempa bumi itu datang bersama tsunami. Negeri Jepang yang tadinya banyak dikagumi karena keindahan alamnya yang asri, yang setiap warganya bisa bebas bersantai menikmati keindahan bunga sakura di mana-mana, seketika berantakan seperti baru diserang Goliath. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan. Bangunan dan jembatan hancur. Kerusakan terjadi di mana-mana, termasuk pada Pembangkit Tenaga Nuklir di Fukushima.

Nama Pembangkit Tenaga Nuklir tersebut adalah Fukushima I. Salah satu dari 15 Pembangkit Tenaga Nuklir terbesar sedunia.

Fukushima I, atau Fukushima Dai-ichi, menerima imbas dari getaran dahsyat bumi yang menurut manusia adalah bencana. Singkat kata, terjadi kebocoran yang menyebabkan terkontaminasinya lingkungan luar oleh radiasi. Fukushima dalam bahaya. Jepang dalam bahaya. Dunia dalam bahaya.

Ratusan ribu warga diungsikan hingga radius tertentu yang dianggap aman. Padahal, seisi dunia tak sepenuhnya aman. Radioaktif bisa menyelimuti seisi bumi, menyerang siapa saja di sudut manapun, bahkan kepada mereka yang bersembunyi di kolong meja. Yang pasti, satu hal mesti dilakukan: kerusakan harus diperbaiki.

Dengan kebocoran yang telah merebak ke mana-mana, tingkat radioaktif terparah tentu berada pada pusat kebocoran. Memperbaiki kebocoran seakan terlihat seperti misi bunuh diri. Tapi tidak memperbaikinya dapat membunuh seisi dunia.

Nuklir memainkan nurani manusia. Keputusan cepat harus diambil. Dan mereka yang dipekerjakan untuk “memperbaiki” kerusakan di Dai-ichi seakan sudah menerima “kalimat kematian”-nya masing-masing.

Mengharap keluar dengan tidak membawa cacat pun adalah sebuah kesalahan. Semua yang ke sana harus tahu: tidak mati pun sudah merupakan kabar baik. Cepat atau lambat, suka atau tidak, radiasi bakal menggerogoti tubuh mereka, berbuat kerusakan di organ-organ, menjadikan mereka mandul atau menyebabkan kematian. Mereka bakal diberi sebuah baju tebal untuk keselamatan. Namun, baju itu tidak cukup tebal untuk menghalangi radiasi. Yang mereka kenakan hanyalah formalitas protokoler belaka, baju-baju tersebut tak akan cukup tangguh untuk menghalangi radiasi menembus masuk tubuh mereka. Layaknya dasi yang dikenakan orang yang mau presentasi, dasi tersebut tak akan menghilangkan kegugupan yang menyergap ketika melakukan presentasi.

Para pekerja itu sudah tahu risikonya, dunia tinggal menunggu diselamatkan.

Pekerja-pekerja tersebut dikenal dengan nama Fukushima Fifty (karena giliran kerja mereka dibagi per 50 orang). Mereka terdiri dari sekitar 180 orang pahlawan.

Nyawa mereka dibutuhkan dunia. Tanpa mereka, radiasi yang bocor akan terus menggerogoti bumi dan seisinya tanpa kenal ampun. Menjadikan bumi sebagai tempat setandus gurun pasir.

Berkat mereka, Fukushima Fifty, bumi belum bertransformasi menjadi gurun pasir seluruhnya. Makanya, mereka tak pantas disebut pekerja. Mereka adalah pahlawan.

Untuk mereka, hormatku yang setinggi-tingginya kuberikan, untuk para pejuang Fukushima Fifty, yang rela berkorban untuk seisi dunia.

Dari sini, mungkin hormatku tiada berguna. Namun, ini adalah perasaan tertulus yang coba kusampaikan. Bahwa di bumi manusia ini, masih terdapat sekelompok manusia yang harus berkorban untuk yang lain, sementara yang lain hanya tinggal berpangku tangan, menyaksikan itu semua dari layar televisi dengan datar, tanpa tergugah sedikitpun hatinya.

Tidak seperti permohonan seorang gadis kecil kepada ayahnya yang tergabung dalam Fukushima Fifty, “Kumohon, Ayah, kembalilah dengan selamat.”


Warisan Dunia yang Mulai Hilang

Lebih dari 3000 tahun sebelum RMS Titanic melepas sauhnya di pelabuhan Southampton, bersiap menuju New York City sebelum akhirnya dikaramkan oleh bongkahan es raksasa, orang-orang Polinesia sudah dikenal sebagai pelaut yang andal. Pada masa itu, mereka sudah berani menantang Samudera Pasifik, menjelajah dari Hawaii sampai ke Selandia Baru hanya dengan perahu kano. Sementara orang-orang Eropa, sepuluh abad setelahnya masih belum bisa mengukur garis bujur dan takut akan lautan terbuka.

Pada masa itu, orang-orang Polinesia tidak punya bahasa tertulis. Mereka hanya mengingat apa yang mereka alami. Dari pengalaman berlayar selama bertahun-tahun, mereka tumbuh menjadi bangsa yang tangguh di lautan. Saking dekatnya mereka dengan laut, bahkan dengan hanya melihat dari pola ombaknya saja pun, mereka sudah bisa mengenali keberadaan karang di depan yang belum terlihat mata.

Mereka adalah satu dari sedikit kultur yang masih memegang teguh kearifan kuno mereka. Namun, setidaknya, mereka bukan satu-satunya.

Kini, kearifan kuno adalah barang langka yang terkesan hanya pantas berada di museum. Mungkin karena manusia adalah makhluk yang selalu penasaran. Mereka terus berpikir dan mencari tahu. Dari situ, manusia melahirkan teknologi. Dengan teknologi terbaru yang mereka temukan, biasanya mereka akan berpikir, inovasi mereka adalah yang terbaik. Jadi, buat apa untuk mengikuti yang dulu?

Teknologi diciptakan oleh manusia, namun teknologi seringkali mengubah hidup dari manusia itu sendiri. Dari teknologi, manusia menemukan berbagai hal-hal baru yang tidak disediakan oleh alam sebelumnya. Dan itu memaksa manusia untuk melakukan adaptasi, walaupun teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia.

Mereka yang memegang teguh kultur biasanya menolak untuk bergabung dalam upaya beradaptasi kepada teknologi yang baru. Mereka ogah menerima apa yang dinamakan “inovasi” yang katanya merupakan buah karya dari kapasitas intelektual manusia. Mereka merasa hidup hanya perlu dimaknai dengan menghargai alam, dan alam akan memberi apa yang mereka minta.

Dan mereka-mereka itu adalah orang-orang yang semakin punah. Tidak banyak manusia di bumi ini yang kuat untuk menahan godaan teknologi. Dan kini, orang-orang yang tadinya masih memegang teguh kearifan kuno mereka, berbondong-bondong meninggalkannya dan beralih pada kultur baru yang lebih menjanjikan kepraktisan sehingga masyarakat pada budaya tersebut menjadi hilang sama-sekali.

Lalu ketika suatu kultur hilang, haruskah kita prihatin?

Wade Davis, antropolog asal Kanada, pernah menulis, “Bukan perubahan atau teknologi yang mengancam kultur, tapi dominasi.” Dan adakah bumi kita ini sudah terasa mulai disergapi dominasi tersebut? Mereka yang sedang di atas angin menindas yang lemah. Mengubah jiwa-jiwa kerdil, jiwa-jiwa yang sedang kalah itu untuk tunduk patuh pada mereka. Sehingga roda kehidupan belum berubah. Yang di atas, masih tetap yang di atas angin. Dan dominasi di bumi, masih terus berlanjut.

Sayangnya, beberapa tragedi yang terjadi di muka bumi ini sudah menunjukkan tanda-tanda dominasi. Suku Penan, yang terdiri dari orang-orang nomaden pribumi di Borneo, mulai tersingkir akibat pembabatan hutan di sana. Polusi dari industri petrokimia meracuni sungai-sungai yang dulunya adalah tempat yang subur yang merupakan tempat bertani orang-orang Ogoni dari Delta Niger.

Dunia sudah menyimpan sejarah panjang mengenai dominasi, dan mereka yang tak punya kekuatan selalu mengalah atau kalah. Belakangan ini, dunia sudah jarang mengalami perang (bentuk dominasi terang-terangan yang populer di masa lampau), namun dominasi telah mengambil wujudnya yang baru. Yang lebih bervariasi dan sulit tertebak.

Dan ketika dominasi sudah mulai menggerogoti nyawa-nyawa dari setiap kultur yang masih mengagungi nilai-nilai kearifan kuno mereka, dunia sudah harus bersiap untuk kehilangan ilmu pengetahuan yang berasal dari observasi selama ribuan tahun lebih. Karena dari sejarah, harusnya dunia belajar.

Sayang, kadang kita tidak begitu percaya dengan cerita kakek-nenek kita.


Nuklir dan Sepenggal Lirik Lagu The Beatles

Ketika menulis lagu “The End”, Paul McCartney ingin lagu tersebut diakhiri bait yang penuh arti, layaknya yang dibuat Shakespeare, dan hasilnya dia mendapatkan sebuah baris indah yang kini ramai dikutip orang di mana-mana:

“And, in the end, the love you take/ Is equal to the love you make.”

Baris tersebut terasa sangat indah untuk didengar maupun dilafalkan. Baris yang taat akan kaidah rima ini sungguh serasi untuk didengungkan. Goenawan Mohamad pernah bilang bahwa rima itu tak bisa dipaksakan. “Yang terbagus (seperti sajak Chairil), rima terbit dari rasa. Rasa yang menemukan ‘bunyi’,” katanya. Baris McCartney persis terasa seperti itu.

Tapi jauh di balik nilai seni yang terkandung, ada hal yang tak kalah penting: baris tersebut mengandung makna filosofis yang dalam.

McCartney—entah sadar atau tidak—sedang memberitahu kita tentang keseimbangan dalam hidup. Setiap tindakan melahirkan konsekuensi. Setiap usaha akan menerbitkan hasil. Setiap kejahatan telah ditunggu oleh ganjarannya masing-masing.

McCartney merangkum kekompleksan hukum sebab-akibat tersebut dalam sebuah analogi bernama cinta. Mungkin karena hanya cintalah yang dapat mencakup semua elemen sebab-akibat yang ada di muka bumi, atau jawabannya sesederhana: karena cinta mudah untuk dikomersialisasi.

Yang jelas, The Beatles memang sering menulis lagu cinta.

Namun, adakah kiranya yang dapat mengambil pelajaran dari sepenggal lirik terkenal ini untuk sebuah keputusan dari suatu permasalahan yang mempertaruhkan jiwa dari banyak manusia?

Memang belum tentu McCartney punya niat untuk menggurui ketika menciptakan baris terkenal itu. Bisa saja dia hanya sedang meracau dan sontak mendapatkan sebuah wangsit dari yang gaib. Tapi seharusnya, pelajaran tidak harus diambil berdasarkan niat dari yang mengajarkannya.

Ada sebuah cerita sedih dari negeri Jepang. Beberapa hari yang lalu, negeri mereka dilanda bencana gempa bumi dahsyat yang disebut Perdana Menteri Naoto Kan sebagai “krisis terberat dan tersulit Jepang dalam 65 tahun setelah akhir Perang Dunia II”. Imbas dari gempa tersebut tidaklah kecil: Pulau Honshu bergerak 2,4 meter ke timur; sumbu aksis bumi bergeser 10 cm; dan—salah satu dampak terbesar dan yang paling ditakutkan umat manusia—kebocoran radioaktif dari Pembangkit Tenaga Nuklir Fukushima I (sering disebut juga sebagai Fukushima Dai-ichi).

Awalnya, terjadi kegagalan dalam sistem pendingin di Dai-ichi. Kegagalan ini dapat berakibat fatal seperti terjadinya panas yang berlebih pada reaktor. Ketika kebocoran terjadi, ratusan ribu lebih warga langsung dievakuasi untuk diamankan dari polusi radioaktif.

Hal ini mengingatkan dunia pada memori buruk Chernobyl (1986). Ketika itu, terjadi kecelakaan nuklir (yang bermula dari sebuah uji sistem yang dilakukan di reaktor nomor 4). Kecelakaan tersebut kemudian menimbulkan krisis berkepanjangan (termasuk penyakit-penyakit genetik yang tak bisa disembuhkan) bagi Uni Soviet (sekarang Ukraina) yang—dipercaya banyak orang—menjadi salah satu faktor terkuat yang menentukan keruntuhan Uni Soviet.

Ketika orang berbicara nuklir, mulanya orang berbicara tentang energi yang sangat besar dari materi yang sangat kecil. Nuklir seakan memberi solusi bagi permasalahan energi di bumi yang tak mau terus menerus menguras “nenek moyang” kita yang sudah berbentuk fosil. Nuklir juga awalnya dianggap “ramah lingkungan” karena bebas dari “polusi”.

Namun, McCartney benar, pada akhirnya, semuanya adalah seimbang.

Dari proses pemisahan inti uranium tersebut, kita bisa mendapatkan energi yang nantinya bisa menghidupi satu kota penuh dengan segala kegemerlapan malam, tanyangan televisi tanpa henti, dan industri yang terus menopang ekonomi. Tapi kita juga tak boleh terlena, energi bagaikan sebuah singa ganas, yang ketika berhasil dijinakkan bisa membawa rasa aman, namun ketika gagal, boleh jadi dia malah balik menyerang. Dan tidak seluruh umat manusia sudah yakin bahwa kita telah berhasil menjinakkan “seekor singa yang ganas” yang berwujud nuklir.

Tapi waktu yang terus bergulir memaksa kita untuk terus membakar minyak dan batu bara, sementara keadaan ini tak bisa terus dibiarkan! Persediaan bahan bakar fosil yang semakin menipis akibat terus digerus membuat kita harus menentukan sikap secara cepat. Entah didasari dengan matang atau sekedar nekat, akhirnya dunia berani bermain-main dengan nuklir.

Setelah Chernobyl, dunia teringat kembali akan keganasan dari “raja hutan” yang satu ini. Nuklir bukan sebuah permen lolipop yang bisa dihisap tanpa perlu takut sewaktu-waktu bakal meledak. Nuklir harus digunakan dengan penuh waspada.

Dan ketika dunia sudah merasa cukup waspada, alamlah yang bergerak. Dia “bangunkan” si “singa ganas” dari tidurnya. Membuat dunia kembali porak poranda. Dilanda ketakutan akan kanker atau kemandulan.

Dengan terjadinya kecelakaan nuklir di Fukushima Dai-ichi, gelombang protes antinuklir mulai ramai dikoarkan oleh para pecinta kedamaian. Mereka menuntut dihapuskannya nuklir dari dunia. Sebuah bentuk protes yang peduli, namun apakah yang mereka koarkan telah mampu menjawab permasalahan energi dunia?

Kini dunia sedang dipaksa untuk memilih. Entah mana yang bakal dipilih pada akhirnya, yang jelas, pesan McCartney sudah tegas: pada akhirnya, semuanya akan seimbang.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.