Ada sebuah permainan yang sedang populer di kalangan teman-temanku akhir-akhir ini. Permainan yang mungkin sudah ada sejak zaman purba. Yang usianya mungkin sudah tak terkira lagi tuanya. Yang mungkin sudah ada sejak pertama kali manusia itu sendiri hadir di dunia. Yang jejak permainannya sudah mendarah daging di berbagai daerah. Sebuah permainan yang bahkan tertulis pada kitab suci sebuah agama. Sebuah permainan kuno, namun terbukti mampu mengikuti perkembangan zaman. Permainan yang sulit untuk dideskripsikan nama umumnya, saking seringnya dia muncul dengan berbagai nama.
Aku pertama kali mengenal permainan ini dari sebuah buku. Di buku ini diceritakan bahwa permainan ini tertulis di sebuah kitab suci. “Satu-satunya judi yang diperbolehkan kitab suci.” Begitu yang tertulis di buku itu seingatku. Nama permainan ini di sana adalah Umim dan Tumim. Umim dan Tumim berbentuk batu. Salah satu berwarna putih, yang lain berwana hitam. Batu yang berwarna putih mempunyai arti tidak sementara yang hitam menggambarkan ya. Kedua batu ini ditaruh dalam sebuah kantung. Ketika kita mempunyai sebuah pertanyaan tertutup maka kita bisa menanyakan jawabannya dengan mengambil salah satu batu di kantung tersebut tanpa melihat batu apa yang kita ambil. Jadi apapun batu yang terambil, itu merupakan jawaban yang tidak kita tentukan. Dan itulah jawaban ya atau tidak dari Umim dan Tumim.
Kali kedua kutemui permainan macam ini, aku menemuinya secara langsung, bukan sekedar membacanya dari sebuah buku. Permainan ini tidak berbentuk pengambilan batu, tapi pembukaan halaman buku secara acak. Buku yang digunakan adalah buku yang di setiap lembarnya telah tercetak kemungkinan-kemungkinan jawaban dari sebuah pertanyaan tertutup. Buku tersebut lalu dibuka–dengan acak tentunya–dan terbukalah halaman dengan jawaban atas pertanyaan kita di atasnya.
Yang paling terakhir kutemui, permainan ini muncul dalam bentuk aplikasi di sebuah situs jejaring sosial terpopuler di muka bumi. Lihat bagaimana permainan ini mampu bertahan dalam segala macam perkembangan zaman, bahkan permainan ini bisa menembus era teknologi informasi! Yang dilakukan tetap sama. Tanyakan sebuah pertanyaan tertutup, dan kita akan mendapatkan jawabannya dari permainan ini.
Namun ternyata jauh sebelum aku mengenal permainan ini dengan sepaham-pahamnya, sebenarnya aku sudah sangat dekat dengan permainan ini. Permainan ini sering aku mainkan, terlalu sering malah. Dan permainan ini nyaris merasuki setiap bentuk permainan yang kumainkan di kala kecil. Adu koin, suit, dadu, atau apapun itu. Semuanya hanya bentuk lain dari permainan ini.
Entah berapa kali aku menemui permainan ini sepanjang hidupku. Mungkin sudah sangat sering, tapi aku tak menyadarinya. Permainan ini memang sering bersembunyi dalam berbagai kamuflase.
Permainan ini bertahan, berkembang, dan terus dimainkan. Sebegitu istimewakah permainan ini?
*
Hidup katanya adalah masalah memilih. Dan semua pilihan sebenarnya bersumber pada sepasang opsi yang berlawanan. Hitam atau putih. Ambil atau acuhkan. Simpan atau buang. Lari atau sembunyi. Ya atau tidak. Dua pilihan yang merupakan jawaban dari pertanyaan tertutup.
Mungkin permainan ini bertahan karena permainan ini memberikan jawaban atas apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan: pilihan. Manusia hidup untuk memilih. Di tengah kepenatan yang menumpuk, di ujung emosi yang memuncak, di kala kejenuhan terus bertambah; hal-hal semacam ini menjadi ajang yang sangat tepat untuk sekedar mencari kesenangan atau bahkan sampai untuk menentukan jalan hidup sesungguhnya.
Hidup memang tentang pilihan, dan kadang manusia butuh untuk dibimbing akan pilihannya. Beberapa di antaranya senang untuk dibimbing dengan cara-cara semacam ini: mengambil Umim atau Tumim, membuka halaman buku secara acak, atau menanyakan kepada Fortune Teller Genius.
Bimbingan lewat permainan macam ini memang terasa nyata karena tidak memihak. Peluang untuk mendapatkan jawaban ya atau tidak berimbang: lima puluh-lima puluh. Tidak ada pihak yang diuntungkan dengan pengambilan keputusan macam ini.
Kadang kita memang dihadapkan pada keadaan-keadaan di mana semua kondisi tidak menguntungkan dan sama saja. Tapi keputusan tetap harus diambil. Dan mungkin keputusan secara randomlah yang terbaik.
Buat apa susah-susah berpikir kalau semuanya bakal berakhir sama saja? Lebih baik kau cari saja jawabannya lewat lemparan dadu atau pengambilan kelereng. Lebih mudah dan tak perlu repot.
Betul juga. Buat apa merepoti hal yang tidak ada gunanya untuk direpoti. Malah cuma akan merepotkan diri sendiri.
Jadi apakah permainan ini istimewa? Aku sendiri bakal menjawab ya, tapi coba saja kau tanyakan dulu ke Fortune Teller Genius.
Dua bom meluluhlantakkan Kota Jakarta Jumat, 17 Juli 2009, kemarin. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh warga lokalnya saja. Sebuah klub sepak bola kelas dunia yang tadinya dijadwalkan untuk melakoni sebuah partai persahabatan pun membatalkan kunjungan mereka. Mereka tak mau mengambil risiko untuk tetap ke Jakarta yang sedang berkecamuk ini.
Dugaan sementara menyebutkan bahwa serangan bom ini merupakan serangkaian dari ulah sebuah jaringan teroris. Dan momentum yang diambil begitu tepat sehingga seluruh mata dunia kini mengarah ke Indonesia yang sedang dibombardir oleh teror-teror maut.
Teror ini menimbulkan ketakutan–kepanikan. Kepanikan yang membuat masyarakat berada dalam chaos. Keadaan yang sangat mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjalankan keinginan mereka. Yang mereka butuhkan cuma satu: masyarakat kacau-balau dan semuanya tidak akan mudah untuk dikendalikan oleh yang berkuasa saat ini. Bahkan pemindahan kekuasaan pun mungkin saja terjadi pada saat-saat seperti ini.
Akan tetapi, keadaan tidak berjalan semulus itu. Di tengah serangan bom sana-sini yang harusnya menakutkan siapapun itu, masyarakat Indonesia justru menunjukkan keinginan untuk tetap satu. Mungkin tidak keseluruhan masyarakat Indonesia bersikap seperti itu, tapi sebagian saja sudah cukup.
Kekacauan memang sempat terjadi, namun tidak mencapai ke taraf parah. Semuanya masih terkontrol. Dan–yang terpenting–sebagian masyarakat Indonesia justru memperlihatkan gelagat untuk bersatu setelah serangkaian serangan bom ini. Mereka menunjukkan diri pada dunia bahwa mereka tidak takut. Justru mereka membuat semacam jargon #indonesiaunite yang berkali-kali menjadi nomor satu di Trending Topics Twitter.
Mereka tak mudah menyerah dan membuktikan bahwa diri mereka tidak lemah. Tekad kuat untuk bersatu ini terasa luar biasa karena terjadi setelah serangkaian musibah yang sulit diterima siapapun juga. Harus diakui, respon masyarakat kali ini adalah luar biasa.
Namun apakah ini hanya sebatas jargon belaka? Tak adakah tindakan lain yang dapat kita lakukan untuk Indonesia tercinta ini?
Memang sulit untuk mengharapkan sebuah tindakan besar dari sebuah masyarakat yang baru saja trauma atas serangan bom yang sudah kesekian kalinya (memang bukan sekali ini saja Indonesia mendapat teror bom). Akan tetapi sebuah semangat yang diusung masyarakat (kebanyakan dari pengguna internet) sudah bisa menggambarkan bahwa–paling tidak–rasa nasionalisme mereka naik di tengah-tengah situasi ini. Situasi di mana rasa nasionalisme yang–mungkin–selama ini terpendam sangat dibutuhkan untuk dibangkitkan kembali. Bom ini dirasa sebagai pemicu munculnya kegairahan untuk membela tanah air kembali. Seperti yang selalu dicita-citakan para pendiri bangsa ini.
Bom ini terkutuk. Tapi bom ini juga melahirkan ide-ide baru, gagasan-gagasan baru, serta memunculkan rasa nasionalisme yang lama terpendam. Semoga rasa ini tidak hanya terluapkan pada momen ini saja. Semoga rasa ini timbul bukan karena emosi sesaat yang nantinya juga bakal hilang lagi. Semoga rasa ini muncul bukan karena tren yang tiba-tiba menjadi layak untuk diikuti.
Semoga kita semua bisa menjaga rasa ini. Dan nantinya rasa ini bakal mengantarkan ibu pertiwi untuk bisa menjadi lebih kuat sehingga dunia internasional akan menyegani kita semua.
Mungkin kemarin ibu pertiwi menangis, tapi sekarang ibu pertiwi pasti tersenyum. Senyum bahagia campur pengharapan.
Bagaimanapun juga, terima kasih, pak teroris. Yang telah menuntun bangsa ini menuju persatuannya.
Tidak seperti biasanya, aku berangkat ke travel yang sudah kupesan dengan tidak terburu-buru. Jauh lebih pagi dari jadwal. Aku tak tahu mengapa, tapi yang kupikirkan saat itu hanyalah keinginan untuk menghilangkan kebiasaan jam karet yang banyak dilakukan oleh orang-orang Indonesia.
Saat itu aku sedang berada di Bandung, dan travel yang kupesan bertujuan ke Jakarta. Maksud kedatanganku ke Jakarta pada awalnya adalah untuk menonton pertandingan Manchester United versus Indonesia All-Star yang tadinya bakal diselenggarakan Senin, 20 Juli 2009.
Tentu saja aku terlalu cepat datang ke tempat travel, namun sesampainya di sana ada sesuatu yang terlupakan, struk pembelian tiket yang “wajib dibawa” itu tertinggal! Tanpa pikir panjang, aku langsung kembali ke pondokan tempatku tinggal di Bandung untuk mengambil selembar kertas lusuh tersebut karena sesungguhnya makna kepergianku ke Jakarta ada padanya.
Bolak-balik antara tempat travel dan pondokanku; hasilnya lumayan melelahkan. Ah, tidak. Melelahkan sekali. Namun itu semua kulakukan dengan ikhlas, tahu kenapa? Karena kepergianku ke Jakarta jadi tidak sia-sia. Paling tidak itulah yang ada di benakku pada saat itu.
Dan rentetan peristiwa pemboman yang terjadi di Jakarta mengubah apa yang ada di benakku itu ketika aku telah sampai di Jakarta, tepatnya ketika aku sedang makan siang di sebuah warung. Salah seorang pembawa berita televisi swasta nasional yang cukup kondang, Najwa Shihab, mengirim pesan lewat situs Twitter yang isinya “After seeking advice from various parties, including the Foreign Office, MU confirmed they would not be flying to Jakarta tomorrow.” Dan dalam beberapa detik kebisuanku hanya bisa dikalahkan oleh segelas es teh manis yang kupesan tadi.
Detik berikutnya yang kulakukan adalah mempraktekkan teknik “olah rasa” yang telah kupelajari pada diklat PROKM. Aku harus bisa menerimanya. Dan ternyata itu tidak terlalu sulit. Walau rasa kesal itu tidak bisa dimusnahkan sepenuhnya.
Sebenarnya apa tujuan mereka—para teroris—dalam kasus pemboman itu? Sampai merenggut banyak korban jiwa, sampai-sampai membuat imej keamanan Indonesia di mata dunia menjadi bertambah parah. Sampai-sampai membatalkan kunjungan sebuah tim sepak bola kelas dunia ke negara yang sangat menantikannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teroris berarti “orang yg menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik”. Dalam bahasa mudahnya, teroris itu orang yang menimbulkan teror.
Rasa takut timbul ke masyarakat jika masyarakat ditakut-takuti. Dan untuk menakut-nakuti masyarakat, dibutuhkan alat yang mampu menyebarkan “hal yang bisa menakut-nakuti tersebut” dengan luas dan cepat. Alat tersebut pastilah media massa.
Media massa hanya mau menampilkan berita yang menarik-menarik saja. Maka para teroris itu membuat sensasi ini menjadi sebesar mungkin. Tanggal pengeboman dijatuhkan ketika Indonesia baru saja menggelar pilpres 2009 dan akan menyambut acara-acara besar yang banyak melibatkan partisipasi olahragawan serta musisi kelas dunia seperti pertandingan persahabatan Manchester United versus Indonesia All-Star, InterMusic Java Rockin’ Land, dan Beatfest ‘09. Pembatalan acara-acara tersebut akibat serangan bom beruntun pasti bakal menyedot perhatian seluruh dunia ke Indonesia. Dan tercapailah misi si teroris untuk “menimbulkan rasa takut”.
Tapi benarkah misi tersebut berhasil? Sebenarnya tidak persis begitu.
Paling tidak masyarakat pengguna internet Indonesia menunjukkan tekad-tekad untuk berani melawan para teroris. Mereka menulis blog, memperbaharui status facebook, menyebarkan lewat twitter, atau plurk segala kata-kata yang intinya tentang kesiapan mereka dalam melawan teroris. Dalam sekejap tag #indonesiaunite melejit ke urutan pertama pada Trending Topics Twitter, mengalahkan topik-topik lain yang masih hangat di dunia seperti Harry Potter atau pemilu Iran. Tidak juga ketinggalan, tag #wearenotafraid diluncurkan untuk menunjukkan keberanian bangsa Indonesia dalam melawan segala tindakan keji dari para teroris.
Belum lagi banyak para pengguna twitter yang mengganti profile image mereka dengan foto mereka yang timbul seperti tanda air di antara latar bendera merah-putih. Ada juga rapperseperti Pandji Pragiwaksono yang langsung mengeluarkan lagu “Kami Tidak Takut” yang liriknya menegaskan keberanian dari segenap bangsa Indonesia dalam melawan segala tindak terorisme ini.
Inti dari segala kekuatan ini hanya bakal kita dapatkan jika kita bersatu. Dengan bersatu, terbukti tag #indonesiaunite bisa menjadi nomor satu di dunia. Kenapa kita tidak yakin untuk melawan para teroris ini yang pasti hanya terdiri dari segelintir orang saja. Bandingkan dengan jumlah seluruh penduduk Republik Indonesia.
Teror sana sini. Bom meledak dan ditemukan. Kalau benar yang diinginkan para teroris itu hanya “menyebarkan rasa takut”, menurutku mereka tidak terlalu berhasil.
Terakhir, penghormatan yang seluas-luasnya pantas diberikan bagi semua korban dalam rentetan kasus pengeboman ini. Semoga yang terbaik bagi mereka.
Gambar diambil dari sini.
Many forms of government have been tried and will be tried in this world of sin and woe. No one pretends that democracy is perfect or all-wise. Indeed, it has been said that democracy is the worst form of government except all those other forms that have been tried from time to time.
Winston Churchill.
Yeah. Mr. Churchill pun berkata begitu.
Kita memang hidup di negara yang menganut sistem demokrasi, sistem yang dikatakan oleh Mr. Churchill sebagai sistem yang terburuk kecuali dari sistem-sistem yang telah dicoba sebelumnya. Memang sistem ini memiliki banyak kebobrokan dilihat dari berbagai sudut.
Tujuan awal dari sistem demokrasi sebenarnya adalah untuk meletakkan kedaulatan rakyat di tempat tertinggi atas negara yang diatur oleh pemerintah.
Kedaulatan rakyat? Ya, benar. Bahkan demokrasi sendiri berasal dari kata demos yang artinya rakyat dan kratos/cratein yang artinya pemerintahan.
Lalu apa yang dimaksud kedaulatan rakyat di sini? Sebatas hak memberikan suara di pemilukah?
Sayangnya jawabannya dari pertanyaan tersebut mendekati “ya”. Kedaulatan rakyat yang diartikan di demokrasi–terutama di Indonesia–lebih banyak diartikan sebagai kebebasan memberikan suara pada pemilu. Makanya pemilu sering disebut-sebut sebagai “pesta demokrasi”.
Demokrasi sendiri sebenarnya berawal dari Yunani Kuno pada abad ke-5 SM. Dahulu sistem ini sangat diperlukan untuk mengontrol kekuasaan pemerintah yang terlalu semena-mena sehingga tidak mampu memberikan keadilan dan kemakmuran pada rakyat. Dan sistem ini berjalan dengan sangat baik.
Bagaimana dengan sekarang?
Rakyat tetap tidak merasakan keadilan dan kemakmuran, orang-orang yang mempunyai kekuasaan terus bertindak semena-mena terhadap rakyat jelata, dan–bahkan–untuk ajang aspirasi kebebasan demokrasi satu-satunya seperti pemilu pun diwarnai dengan banyak kecurangan. Jadi, apa bedanya sistem ini dengan sistem yang lainnya? Bukankah kelebihan dari sistem demokrasi adalah karena sistem ini mampu meletakkan kedaulatan rakyat di tempat tertinggi dalam suatu negara? Lalu kenapa di sini malah rakyat yang tertindas?
Yang bisa diharapkan oleh rakyat dari demokrasi (dengan keadaan sekarang) adalah pergantian pemimpin yang berlangsung tiap lima tahun sekali. Setiap ada pemimpin baru muncul dengan kualitasnya yang sangat buruk yang bisa dilakukan rakyat hanyalah menanti lima tahun berlalu sambil berharap lima tahun kemudian pemimpin tersebut digantikan oleh sosok lain yang lebih baik. Dan rakyat benar-benar menjadi menjadi pelaku yang pasif di sini. Mereka memilih, tapi tak bebas memilih. Yang bisa mereka pilih hanyalah mereka yang sudah dapat dipilih, dan tidak setiap dari mereka sudah mewakili semua aspirasi rakyat. Bagaimana ini mau dibilang sebagai sistem yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat?
Di lain waktu, ketika pemimpin yang terpilih (oleh rakyat tentu saja) adalah pemimpin yang baik–lagi-lagi–rakyat hanya bisa berharap pada lima tahun lagi, berdoa agar pemimpin mereka tidak diganti. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berharap. Tidak ada yang lain.
Inilah kelemahan utama dari demokrasi di Indonesia. Rakyat berharap dapat mengubah negara lewat pemilu yang mereka tentukan, padahal yang bisa mereka ubah lewat pemilu hanyalah sosok pemimpinnya saja. Bukan sistemnya secara keseluruhan. Padahal sistem secara keseluruhan dapat lebih mempertahankan kekuatan negara secara berkesinambungan.
Rakyat Indonesia pun terbodohi. Dan mereka yang membodohi telah sukses membuat ribuan rakyat negara ini menjadi bodoh.
Atau pembodohan yang terselip dalam sistem demokrasi di negara ini hanyalah sebuah kecelakaan?
Kini rakyat Indonesia menjadi terlanjur cinta pada satu sosok. Satu figur. Tanpa sadar sosok tersebut tidaklah bekerja sendirian. Ia bekerja sebagai sebuah tim. Dan ketika tim tersebut pecah, bisakah sosok tersebut bekerja dengan sama baiknya seperti sebelumnya?
Ah, rumit sekali!
Sumber gambar: www.npsnet.com
Negara kaya ini sedang memilih pemimpin baru. Entah siapa yang bakal terpilih. Apakah yang lama bakal kembali mengenyam kursi empuk kekuasaan lagi atau yang baru bakal berkuasa dengan menggeser yang lama?
Negara ini besar dan subur. Sayangnya rakyatnya mudah diperalat. Ada juga yang tidak mudah diperalat, tapi sangat senang jika dirinya bahagia tanpa mempedulikan orang lain. Yang lain biarlah miskin terinjak-injak, tapi yang kaya harus tetap berkuasa. Hidup itu roda? Itu tak boleh terjadi.
Negara ini sudah pernah punya enam pemimpin. Semuanya orang besar. Semuanya orang yang dihormati. Semuanya punya nama. Sayangnya itu berlaku hanya bagi beberapa kalangan saja.
Negara ini sedang mencoba untuk memperbaiki diri. Salah satunya dengan mengadakan pesta demokrasi, Pemilihan Umum–begitu sebutannya–untuk memilih pemimpin yang baru, sedang berlangsung.
*
Sayang pesat demokrasi ini berjalan terlalu hambar. Yang berpesta hanya sebagian kalangan saja. Bukannya rakyat turut senang dalam menyambut pesta ini, yang kebagian senangnya justru hanya mereka-mereka yang (sebentar lagi) akan mengenyam kursi kepemimpinan baru mereka. Itu pun bagi yang menang saja. Padahal yang kalah pun sebelumnya sudah banyak berkorban. Jutaan rupiah dihambur-hamburkan untuk menghiasi seluruh penjuru kota dengan gambar-gambar mereka. Maksudnya jelas: agar rakyat mengenal mereka. Sadarkah mereka bahwa ada perbedaan yang jelas antara kenal dan sekedar tahu?
Rakyat-rakyat dibuat bingung dengan kertas yang harusnya jadi tempat mereka menentukan siapa pilihan mereka. Daftar calonnya terlalu banyak. Pantas saja ukuran kertasnya raksasa semua. Sudah raksasa, ada yang dua lembar pula. Coba bayangkan, berapa biaya cetak untuk satu lembar saja? Kalikan dengan yang perlu dicetak untuk seluruh rakyat di negara besar ini.
Lalu kenapa calonnya harus sampai sebanyak itu? Bukankah di mana-mana yang namanya calon pemimpin itu hanya beberapa orang saja?Beberapa orang yang seharusnya sudah melewati berbagai saringan yang telah dilewati mereka?
Banyak rakyat yang mau memilih terpaksa tidak jadi memilih hanya karena kesalahan (atau kesengajaan?) dari pihak-pihak tertentu. Mereka yang telah menunggu-nunggu hari ini selama bertahun-tahun harus dipupuskan impiannya karena nama mereka tak ada dalam daftar pemilih. Padahal beberapa di antara mereka sudah jelas-jelas terdaftar sebagai warga selama lebih dari lima belas tahun lamanya. Bagaimana bisa nama mereka tak ada di dalam daftar?
Sedangkan mereka-mereka yang namanya ada dalam daftar malah banyak yang tak mau menggunakan hak pilih mereka. Sadarkah mereka, ini bukanlah sekedar hak untuk memilih, tapi juga kewajiban untuk memilih. Saat negara hancur mereka-mereka berkoar ke sana kemari, namun saat negara butuh bantuan mereka untuk meilih pemimpin mereka-mereka juga justru mereka malah mengacuhkannya.
Ada juga yang namanya masuk daftar pemilih, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam Pemilihan Umum. Akhirnya dengan nekat ia datang ke Tempat Pemungutan Suara, dan mendapati dirinya sendiri kebingungan di bilik suara. Alhasil yang dilakukannya hanyalah mencentang asal-asalan calon-calon yang ia tidak kenal sebelumnya dan membuat mereka yang lain yang menjalani Pemilihan Umum ini dengan serius harus menunggu antre masuk bilik suara lebih lama lagi.
Aneh.
*
Katanya negara ini mau pemimpin yang terbaik, tapi rakyatnya sendiri saja tidak bisa memilih dengan baik.
Katanya negara ini mau berubah, tapi yang dituntut hanyalah perubahan dari orang lain saja.
Negara ini sudah terlalu bobrok, sebentar lagi pasti hancur lebur.
Siapapun, tolong, selamatkan negara ini.
Masalah tentang kehidupan manusia sering mengusik pikiranku. Satu di antaranya yang menjadi langganan adalah tentang sejarah awal mula berdirinya manusia di muka bumi ini.
Darwin mencoba menerangkannya lewat teori evolusi. Tapi lantas banyak kalangan agamis yang langsung menyanggah teori ini mentah-mentah. Lalu mulai muncul kalangan ilmuwan yang ikut menyanggahnya dengan alasan ini dan itu.
Untuk menelusuri bagaimana terciptanya manusia di muka bumi ini, ada baiknya kita menelusuri terlebih dahulu bagaimana genus Homo dapat terbentuk di muka bumi ini. Beberapa kalangan menilai ini dimulai dari pecahnya spesies kera di Afrika. Salah satu dari spesies kera tersebut mulai berjalan dengan dua kaki, ini mengindikasikan bahwa bentuk tubuh mereka mulai menyerupai manusia. Tidak hanya itu, ukuran otak mereka juga bertambah besar dan mereka mulai dapat memanfaatkan benda-benda seperti batu atau tulang sebagai alat untuk membantu perburuan. Spesies kera inilah yang diperkirakan akan berkembang dan menyandang predikat genus Homo. Namun teori kemunculan Homo di Afrika ini masih bersifat terlalu spekulatif karena ditemukannya Homo-homo lainnya yang terdapat di wilayah yang berbeda dan tidak memiliki hubungan keturunan dari Homo yang di Afrika.
Tapi ada keunikan lain yang memberi petunjuk bahwa manusia memang berasal dari Afrika. Petunjuk ini didapat dari penelitian tentang keanekaragaman DNA manusia di seluruh dunia. Setelah diteliti, ternyata Afrika merupakan benua yang memiliki tingkat keanekaragaman DNA terbesar di dunia. Sementara tingkat keanekaragaman di belahan dunia yang lain dapat dikatakan nyaris sama. Apa artinya ini? Ini memberi petunjuk pada kita bahwa kelompok-kelompok manusia awal berasal dari Afrika dan sebagian besar dari mereka tetap menetap di sana. Namun ada beberapa kelompok yang mencoba untuk pergi mengembara menuju luar Afrika. Kelompok ini hanyalah sebagian kecil dari kelompok manusia di Afrika pada saat itu. Karena kelompok yang pergi keluar Afrika hanya sebagian kecil saja, maka perkawinan yang terjadi pun hanya di antara kelompok kecil tersebut. Sehingga tingkat keanekaragaman DNA di luar Afrika menjadi tidak terlalu beragam. Ditemukannya fosil manusia modern tertua di Omo Kibish, Ethiopia, mendukung teori ini. Fosil ini diperkirakan berumur 195.000 tahun.
Penelitian lain yang masih seputar DNA manusia adalah penelitian tentang mitokondria dan kromosom Y. Mitokondria, salah satu organel sel yang terdapat dalam setiap sel manusia murni diturunkan oleh ibu kepada anaknya. Tidak pernah ditemukan kasus bahwa seorang ayah menurunkan mitokondria kepada anaknya. Sedangkan kromosom Y hanya dimiliki oleh laki-laki saja. Inilah kromosom yang menentukan jenis kelamin seorang manusia. Susunan kromosom manusia normal adalah XX atau XY. Satu kromosom X pasti disumbangkan oleh sang ibu, tapi seorang ayah bisa menyumbangkan kromosom X atau kromosom Y. Maka jika seorang anak laki-laki muncul dari suatu perkawinan maka kromosom Y yang dimiliki si anak pasti berasal dari ayahnya.
Ilmuwan mulai meneliti jejak dari DNA mitokondria (mtDNA) dan kromosom Y ini. Ternyata setelah banyak penelitian dilakukan dicapailah sebuah kesimpulan bahwa seluruh mtDNA di setiap manusia di muka bumi ini berasal dari seorang ibu yang sama yang berasal dari Afrika. Begitupun juga dengan seluruh kromosom Y di setiap anak laki-laki di bumi ini, yang ternyata juga berasal dari seorang ayah yang sama, juga dari Afrika.
Ilmuwan menyebut kedua pasangan ini bukanlah satu-satunya “laki-laki dan perempuan” yang hidup pada masa itu, namun penelitian ini telah menunjukkan bahwa terdapat satu rantai yang tak terputus yang berasal dari sepasang manusia hingga menjadi populasi manusia di bumi sekarang ini yang jumlahnya mencapai ratusan juta.
Mari kita kaitkan kesimpulan dari penelitian ini dengan agama. Mungkinkah perempuan yang mewarisi mtDNA ke setiap perempuan di bumi pada saat ini adalah Hawa dan apakah laki-laki yang menurunkan kromosom Y-nya ke setiap anak laki-laki saat ini adalah Nabi Adam?
Sejak kecil aku diajarkan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama di bumi. Tapi benarkah itu?
Saat aku masih menginjak masa SMA salah satu guruku pernah menyebutkan bahwa Nabi Adam bukanlah manusia pertama. Pada saat itu, bagiku ini adalah pernyataan yang lumayan kontroversial. Dan aku suka sekali dengan kontroversi.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” – Q.S. Al-Baqarah: 30.
Di sini ada keanehan ketika para malaikat kelihatan sedikit memprotes keputusan Allah untuk menurunkan Adam ke muka bumi. Padahal malaikat hanya melakukan apa yang telah diperintahkan Allah. Ini, mungkin, mengindikasikan bahwa sebelumnya pernah ada “manusia” sebelum Nabi Adam yang diturunkan ke bumi. Dan berdasarkan ayat itu juga diperlihatkan bahwa “manusia” tersebut selalu berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah. Kalau teori ini benar bisa jadi yang dimaksud adalah spesies Homo yang lainnya yang belum mencapai fase manusia modern (Homo sapiens).
Sebelum ayat-ayat yang menceritakan penciptaan Adam dari tanah liat juga terdapat ayat yang isinya:
“Dan sungguh, Kami mengetahui orang yang terdahulu sebelum kamu dan Kami mengetahui pula orang yang terkemudian.” – Q.S. Al-Hijr: 24.
Siapa “orang yang terdahulu”? Dan siapa “orang yang terkemudian”?
Hanya Allah yang tahu jawabannya.
Terlalu banyak masalah yang dialami Bumi ini. Kebanyakan di antaranya tentu akibat ulah manusia.
Isu global warming, perang, kemiskinan, krisis pangan, krisis lahan tempat tinggal, masalah demografi, dan ratusan-hingga-tak-terhingga masalah lain terus bermunculan di muka Bumi, masing-masing seakan sedang mengantre giliran untuk mendapatkan perhatian utama oleh seluruh warga dunia.
Sebagai penyebab utama dari semua masalah-masalah di atas, tentu kita sebagai manusialah yang paling bertanggung jawab. Masalahnya tindakan apa yang telah kita lakukan sejauh ini untuk mengatasi masalah-masalah tersebut?
*
Manusia memang memiliki akal yang bisa menuntunnya untuk menemui solusi dari setiap permasalahan, sayangnya akal tersebut kadang tidak dilengkapi dengan sebuah visi.
Inovasi-inovasi yang dilakukan manusia seringkali menyelasaikan suatu permasalahan, tapi ia juga memberi “bonus sampingan” berupa masalah lain yang kadarnya bisa saja lebih besar.
Misalnya ketika manusia ingin memasok listrik yang cukup untuk sebuah kota besar. Pembangkit Tenaga Air sudah tak kuat lagi untuk memasok seluruh kebutuhan listrik kota tersebut, maka manusia menemukan solusi dari masalah ini: Pembangkit Tenaga Nuklir. Sayangnya sebuah perang terjadi dan kota tersebut dalam waktu singkat dijadikan sasaran pemboman. Pembangkit Tenaga Nuklir tersebut terkena guncangan akibat bom, dan terjadilah kebocoran yang justru menimbulkan ledakan yang lebih besar lagi dan berbagai kasus kanker baru.
Sulit bagi kita, manusia, untuk menjadi seperti moto PEGADAIAN: MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH.
*
Harusnya isu global warming menjadi wacana utama karena ini bersangkutan dengan keselamatan Bumi kita, tempat di mana kita tinggal. Satu-satunya planet, sejauh ini, yang kita ketahui masuk dalam kategori “layak ditinggali”.
Tapi yang ada justru kita seakan menganggap remeh masalah ini. Berbagai upaya dilakukan, tapi oleh kelompok kecil. Sementara negara-negara besar justru malah menolak Protokol Kyoto yang isinya berupa kesepakatan negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi gas karbon dioksida untuk menangani masalah pemanasan global. Ini sungguh tidak bisa diterima oleh nurani!
Mungkin yang jadi penghalang terbesar bagi “para raksasa” untuk mau turut serta menanggulangi isu pemanasan global adalah masalah uang.
Ramah lingkungan seringkali diterjemahkan dengan “biaya lebih”, walaupun tidak selamanya begitu.
Aku pernah bermimpi andai saja Al Gore terpilih menjadi presiden Amerika Serikat waktu itu. Ah, sudahlah.
*
Tapi belakangan ini ada satu terobosan baru. Terobosan tersebut dinamakan World Silent Day.
Terobosan ini dicetuskan dari benak seorang aktivis bernama Hira Jhamtani. Idenya didapat dari perayaan Hari Nyepi yang sering dirayakan oleh umat Hindu.
World Silent Day bisa dibilang sebagai bentuk Hari Nyepi yang universal. Pelaksanaannya nyaris sama seperti Hari Raya Nyepi, tapi ini dilakukan tidak terbatas untuk kalangan Hindu saja, tapi untuk semua orang yang bersedia mengikutinya.
Anda tidak perlu melakukan apa-apa pada saat itu (bukan hari, karena tampaknya pelaksanaan World Silent Day dalam sehari masih sulit diwujudkan), istirahatkan barang-barang elektronik anda terlebih dahulu, dan tingkat emisi gas karbon dioksida akan menurun.
Tidak percaya? Hira mengatakan bahwa dalam satu hari Nyepi, Pulau Bali menghentikan emisi karbon dioksida sebesar 20.000 ton. Jumlah yang sangat besar. Apalagi kalau dilakukan dalam skala nasional, bahkan dunia.
Ini akan menjadi sebuah pencapaian besar jika proyek ini benar-benar dapat diwujudkan.
*
Tapi tentu saja akan banyak halangan yang bakal merintangi terwujudnya proyek ini. Dengan berhentinya segala aktivitas selama beberapa saat sama artinya dengan menghentikan roda ekonomi (yang lazimnya selalu bergerak) pula. Beberapa sistem komputer sudah distel untuk harus terus menyala dan tidak boleh mati sedetik pun, jika World Silent Day terwujud, maka bagaimana dengan nasib roda ekonomi dunia?
Selalu saja ada kendala, dan kebanyakan dari kendala-kendala tersebut muncul dari kita sendiri. Manusia memang berego tinggi.
Selama ada kepentingan yang dipertaruhkan, selalu ada bantahan yang diperjuangankan. Politik memang selalu bermain di sini.
*
Tapi sejauh ini situs resmi World Silent Day mencanangkan tanggal 21 Maret sebagai hari untuk melaksanakan kegiatan mulia ini. Dan kegiatan ini belum akan dilakukan secara sehari penuh (tentu atas banyak pertimbangan). Kegiatan ini baru akan dilaksanakan selama empat jam, sejak pukul 10 AM sampai 2 PM. Tidak apa, karena segala sesuatunya berjalan perlahan-lahan dulu.
Semoga ini bisa jadi salah satu upaya untuk menyelamatkan Bumi.
Save Our Earth!
Aku menulis tulisan ini ketika waktu sudah terlampau pagi. Terlalu tanggung untuk langsung tidur karena waktu Subuh tinggal sebentar lagi.
Makanya aku memutuskan untuk menulis dulu sambil menunggu waktu Subuh datang.
Masalahnya… aku tak punya ide untuk menulis apa.
Dan seketika aku teringat akan judul blog ini.
*
Aku bertanya kepada setiap orang yang membaca tulisan ini: apa sebenarnya yang memunculkan ide?
Mungkin inspirasi jawabannya. Tapi inspirasi bukanlah sebuah jawaban yang spesifik. Inspirasi terlalu luas untuk sebuah penjelasan akan jawaban. Kita butuh sesuatu yang lebih “mengena”.


Aku teringat akan sosok seorang Richard Brodie, perancang piranti lunak Microsoft Word yang terkenal itu. Ia pernah menulis sebuah buku yang berjudul “Virus of the Mind”, sebuah buku yang bagus, terutama karena buku itu membahas banyak hal yang tadinya tidak aku ketahui.
Buku itu membahas tentang meme. Dan seketika orang-orang langsung serentak bertanya, “Apa itu meme?” Dan aku sadar kebanyakan dari kita memang belum mengetahui apa itu meme jadi aku sudah mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk menerangkan apa itu meme yang akan kita permasalahkan itu.
(Aku berada pada kondisi yang cukup rumit, karena pada saat ini aku sedang tidak memegang buku yang sedang kita bahas ini. Buku itu sekarang ada di Bandung sementara aku berada di pinggiran Jakarta. Antara aku dan si buku terpisah jarak kurang lebih 150 km!)
*
Meme (dilafalkan /mi:m/) adalah unit perulangan dari gagasan, tindakan, atau perasaan yang nantinya akan bercabang menjadi budaya.
Oke. Pengertian di atas memang masih terlalu rumit dan berbeda dengan versi wikipedianya (karena ini adalah pengertian yang kubuat sendiri!). Mari kita coba sederhanakan.
Misalkan aku adalah seseorang yang suka dengan cangkang siput yang direbus. Aku jago dalam memasaknya. Tapi tak seorang pun yang memakan cangkang siput rebus layaknya aku. Tapi karena aku terus mendesak orang-orang agar ikut memakan cangkang siput rebus, lama kelamaan orang-orang yang berada di sekitarku mulai ikut tertarik dengan cangkang siput rebus tersebut. Dan mereka pun mulai ikut memakannya. Dan mereka menyukainya. Akhirnya orang-orang ini memberitahu lagi kepada orang-orang terdekat mereka untuk memakan cangkang siput rebus karena rasanya sangat enak. Dan benar saja, akhirnya seluruh kota telah resmi menjadi penggemar cangkang siput rebus.
Dalam contoh kasus di atas meme yang aku tanamkan kepada orang-orang terdekatku bahwa “cangkang siput rebus itu enak” sukses menyebar sampai ke seluruh penjuru kota. Ini memperlihatkan bahwa penyebaran meme mirip dengan penyebaran virus. Inilah yang sangat mengkhawatirkan.
*
Dalam bukunya, Brodie sempat menyebutkan tentang proses kemunculan virus komputer pertama. Jadi saat itu sang pembuat mencoba membuat sebuah program perulangan. Dan ternyata ia melakukan satu kesalahan fatal pada program tersebut: ia lupa memberi perintah STOP.
Alhasil si program terus berulang dan berulang. Tak pernah berhenti.
Itu adalah karakteristik virus yang paling mendasar. Ia hanya mencoba bereproduksi sebanyak-banyaknya di dalam tubuh inang yang sedang ia hinggapi. Sehingga si inang lama-kelamaan akan mati.
Dan meme juga memperlihatkan karakteristik virus. Makanya Brodie menamai bukunya “Virus Akalbudi”.
*
Contoh paling nyata dari penyebaran meme adalah iklan. Iklan jelas-jelas dibuat untuk menyebarkan meme. Ini adalah strategi dagang yang sudah umum sejak dahulu kala, karena “semakin banyak dilihat, maka di benak konsumen sebuah produk akan semakin lekat”.
Ini juga sama saja dengan penyebaran dari mulut-ke-mulut (seperti contoh kasus cangkang siput rebus tadi). Meme bisa berpindah dan (cenderung) meluas lewat berbagai macam media. Sangat lihai dan fleksibel.
Lalu apakah meme benar-benar membawa masalah kalau begitu? Mungkin ini tidak dapat dikatakan sebagai masalah juga karena kita hidup selalu berkaitan dengan meme, tapi yang jelas meme kurang baik jika laju penyebarannya terlalu dinamis. Laju penyebaran meme yang terlalu dinamis akan menyebabkan banyak hal, ini beberapa yang terpikir olehku:
- Labilnya kondisi masyarakat. Dengan berganti-gantinya “budaya” dalam suatu masyarakat dalam kurun waktu yang terlalu singkat akan menyebabkan mental masyarakat tersebut terlalu labil dan terlalu mudah menerima perubahan. Mereka akan mudah goyah dan “latah” akan tren.
- Pergeseran norma, adat, atau tata krama. Ini sangat mungkin terjadi karena norma, adat, dan tata krama juga merupakan meme. Jadi dengan berubahnya meme yang mendominasi suatu masyarakat, sangatlah mungkin hal-hal di atas juga ikut berubah.
- Membentuk masyarakat menjadi konsumtif. Meme mengubah tren, dan biasanya untuk mengikuti tren membutuhkan biaya. Dengan seringnya tren berganti secara tidak langsung menyebabkan masyarakat menjadi semakin sering mengeluarkan biaya untuk ini.
- Mudahnya penipuan terjadi. Masyarakat menjadi terlalu lemah mentalnya dan akan sangat mudah menerima meme baru. Salah satu bentuknya mungkin dalam bentuk penipuan.
- Tidak ada pendirian yang teguh. Ini jelas, kalau terlalu banyak masukan pasti akan banyak pertimbangan. Ini cenderung mebuat kebingungan.
- Dan lain-lain. Aku sudah menunggu sejak tadi untuk menulis ini.
Yang jelas penyebaran meme tak terlalu baik jika lajunya terlalu cepat atau jumlahnya terlalu banyak. Aku kira tiap-tiap dari kita juga kurang merasa nyaman kalau terlalu banyak gagasan yang menimpali gagasan kita, bukan?
Dan kumandang azan Subuh pun sayup-sayup terdengar.
Sumber gambar: www.amazon.com
Anak-anak zaman sekarang terlalu banyak bermimpi.
Aku juga sering bermimpi. Dan kebanyakan tak pernah kucoba untuk kuwujudkan. Aku sering berpikir dan jarang sekali bertindak. Berkoar-koar menyerukan perubahan, dan hasilnya hanya air liur yang muncrat ke mana-mana. Anak muda zaman sekarang memang sama saja.
Tuhan selalu punya kejutan dalam setiap rencana-Nya. Aku termasuk orang yang cukup sering dikejutkan oleh rencana-Nya itu. Kebanyakan di antaranya memang sungguh tak terduga. Aku senang diberi kejutan, selama itu kejutan yang baik untukku.
Tapi manusia memang hanya mau mengambil manisnya saja.
Kelahiran membawa sesuatu yang baru. Pasti. Aku yakin ini juga merupakan rencana Tuhan. Dia memang penuh akan kejutan.
Rumah baru. Kotak pos baru. Hari ini aku sibuk pindah alamat. Semuanya memang terkesan terlalu mendadak, tapi mendadak bukan berarti tanpa pertimbangan.
Rumah baru, kotak pos baru. Aku sering bertanya-tanya tentang yang lama. Bagaimana kelanjutannya. Ah, biarlah angin yang berhembus yang menjawabnya. Walaupun angin tidak punya mulut.
Rumah baru, kotak pos baru. Aku berharap bisa nyaman di dalamnya. Semoga aku bisa betah di sana.
Rumah baru, kotak pos baru.
Dan tentunya sebuah kunci. Yang baru juga.

Baru-baru ini, situs jejaring sosial terpopuler di dunia, Facebook, mengeluarkan versi “ringan”-nya yang diberi nama Facebook Lite. Awalnya, 
