Eyang Kung

Namanya Bintoro Tjokroamidjojo. Beliau lahir di Desa Toeksongo, Kota Puworejo pada hari Sabtu Kliwon tanggal 6 Juni 1931. Beliau merupakan anak laki-laki satu-satunya dan sulung dari tiga bersaudara. Orang-orang biasa memanggilnya Pak Bin atau Mas Bin atau Prof. Bin. Aku sendiri memanggilnya Eyang Kung. Beliau adalah kakekku.

Eyang Kung wafat pada tanggal 14 Juni 2009 karena sakit. Pada akhir hayatnya, Eyang Kung memang sering keluar-masuk rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang terus menurun.

Aku cukup banyak mendengar cerita tentang Eyang Kung, dan aku sempat menyangka kalau aku telah banyak mengetahui soal kehidupan beliau. Namun, ternyata aku salah. Ternyata, yang kutahu barulah secuil kisah hidupnya. Di balik itu, Eyang Kung masih menyimpan banyak kisah luar biasa lainnya yang telah beliau alami semasa hidupnya.

Eyang Kung adalah putra dari Mas Binadji Tjokroamidjojo dan Rr. Chatimah Djojowinoto. Kedua adik perempuannya bernama Bintari dan Binarti. Di kemudian hari, ada semacam tradisi di keluarga untuk memberikan nama yang mengandung awalan “Bin-” yang masih terus berlanjut hingga sekarang.

Bapak dari Eyang Kung (kakek buyutku) ditembak mati tentara Belanda pada Juli 1947 di pinggir Kali Pemali, Brebes.

Pada suatu hari yang mencekam Bapak dijemput tentara Belanda. Sempat memeluk Ibu, Ibu menangis. Setelah itu ya tidak ada kabar lagi. Mengetahuinya kalau ditembak mati, lama setelah itu, diberitahu kurir rahasia dari Republik. [1]

Kini, tempat kakek buyutku ditembak mati diberi nama Jalan Binadji. Ketika masih kecil, aku pernah mengunjunginya sekali, walau sekarang sudah lupa sepenuhnya akan bentuk rupa tempat tersebut.

Setelah kematian kakek buyut, Eyang Kung hidup terpuruk bersama keluarga. Berjualan taplak, kerupuk, dll. Namun, satu yang coba dipertahankan: pendidikan.

Sebelumnya, Eyang Kung sudah menamatkan pendidikan dasarnya di ELS (Europese Lagere School) di Temanggung dan Sekolah Rakyat Sempurna di Pemalang. Setelah lulus, Eyang Kung melanjutkan pendidikannya di SMP Pekalongan. Selepas SMP, Eyang Kung mendaftar dan diterima bersekolah di SMA PIRI (Perguruan Islam Republik Indonesia) di Yogyakarta. Desember 1948, Yogyakarta diserang dan diduduki Belanda. Eyang Kung terpaksa mengungsi dan pindah sekolah ke Salatiga. Kemudian, beliau pindah lagi ke Semarang dan menamatkan SMA-nya di sana.

Setelah lulus SMA, Eyang Kung pergi ke Jakarta. Pada saat itu, keluarga pada umumnya menyarankan untuk tidak melanjutkan sekolah melainkan mencari pekerjaan. Adalah Bude Kam (panggilan Eyang Kung untuk kakak perempuan ibunya) yang mendorong Eyang Kung untuk bersekolah di perguruan tinggi. Eyang Kung akhirnya diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan mendapat beasiswa.

Di Jakarta, Eyang Kung kembali bertemu dengan wanita yang dikenalnya di Salatiga dulu. Dia adalah Latifah Hanoum Harahap. Wanita yang kemudian dinikahinya pada tanggal 9 Januari 1959.

Tanggal 9 Januari 1957, karena ya sudah setuju semuanya maka kami bertunangan. Sebetulnya ya “setuju”, tetapi banyak yang heran, karena saya mendobrak kebiasaan lama. Dari keluarga saya, boleh dikatakan perkawinan 100 persen ya dengan orang Jawa, bahkan 60 persen antar keluarga, 20 persen antar keluarga dekat (sepupu). Lho ini kok bukan dengan orang Jawa, dari tanah Batak lagi. Mandailing sebetulnya. Tapi sama-sama beragama Islam—itu dasarnya. [2]

Pada tahun 1955, sepuluh sampai lima belas mahasiswa program Sarjana FEUI direkrut untuk bekerja di Biro Perancang Negara. Eyang Kung termasuk di dalamnya. Di Biro Perancang Negara, ada program bantuan sekolah ke luar negeri dari USAID (dulu bernama ICA). Program ini hanya berlaku untuk perseorangan. Karenanya, Eyang Kung terpaksa meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk melanjutkan sekolahnya di University of Pittsburgh, Amerika Serikat pada pertengahan 1959.

Awal tahun 1961, Eyang Kung kembali dari AS dengan membawa gelar Master pada program studi Public and International Affairs dari University of Pittsburgh. Eyang Kung lulus dengan predikat Magna Cum Laude.

Satu babak hidup Eyang Kung yang sangat berkesan adalah ketika beliau dilantik sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Belanda. “Bapak mati ditembak Belanda, saya jadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Kerajaan Belanda,” kata beliau.

Buat saya ini adalah suatu kehormatan yang luar biasa. Pada umumnya orang India paling terhormat kalau jadi Duta Besar di Inggris (at the Court of St. James), sedangkan bagi orang Indonesia, ya di Belanda, bekas penjajahnya. Lagi pula saya merupakan Dubes sipil pertama di Belanda. [3]

Eyang Kung dilantik tanggal 27 Mei 1990. Selanjutnya, tanggal 6 Juni 1990—tepat di hari ulang tahun Eyang Kung—ditetapkan sebagai tanggal penyerahan Surat Kepercayaan kepada Ratu Belanda. Pada hari itu, beliau sudah siap dengan baju “kebesaran”-nya. Eyang Kung berangkat ke Istana Noordeinde tidak dengan mobil. Sesuai kebiasaan pada negeri kerajaan seperti Inggris, Denmark, dan Belanda pada umumnya; Eyang Kung diantar dengan kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda besar.

Sampai di Istana, Eyang Kung diterima oleh Sekretaris Ratu dan diantarkan menuju ruangan tempat beliau menyampaikan Surat Kepercayaan dengan pidato singkat serta penyampaian salam hormat dari Presiden RI kepada Ratu Beatrix.

Pertama, Ratu menyampaikan selamat ulang tahun pada saya. Wah, saya terkejut bukan kepalang. Tidak nyangka kok tau. [4]

Sebagai anak dari seorang bapak yang ditembak mati Belanda, Eyang Kung tidak membawa dendam kepada Kerajaan Belanda. Baginya, ini adalah takdir Tuhan.

Ya secara pribadi saya melacak kematian almarhum Bapak, tetapi sebagai Duta Besar tidak membawa sama sekali perasaan dendam. Biarpun sebagai kenyataan, tetap saya anggap sebagai kejahatan/kezaliman terhadap Bapak saya. Yah saya semeleh, lho wong perang. Sudah takdir Allah. [5]

Sebelum meninggal, Eyang Kung selalu berpesan untuk dimakamkan di Taman Pemakaman Jeruk Purut, tempat banyak jenazah keluarga disemayamkan. Eyang Kung menolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, walau beliau berhak. Beliau ingin dimakamkan di dekat keluarga.

Jika ditanya tentang pencapaian hidupnya, Eyang Kung pernah menjawab, “I have no regrets, saya hanya bersyukur kepada Allah SWT.”

Kisahnya yang kuketahui, mungkin baru secuil. Dan lebih sedikit lagi yang kutulis di sini. Di setiap kisah hidup manusia, selalu dapat dipetik pelajaran. Dari Eyang Kung, kisahnya mungkin memberi inspirasi bahwa hidup tak harus diisi untuk menagih ganti rugi atas kezaliman yang diperbuat terhadap kita. Biarlah Tuhan yang mengatur neraca keadilannya.

Dan di akhir masa hidupku nanti, aku juga ingin jadi seperti Eyang Kung, yang dapat dengan lugas berkata, “I have no regrets.

Catatan kaki:

[1] Bintoro Tjokroamidjojo, Bapak Mati Ditembak Belanda, Menjadi Duta Besar untuk Kerajaan Belanda (Jakarta: -, 2001), hlm. 5.

[2] Tjokroamidjojo, Op. Cit. hlm. 18.

[3] Tjokroamidjojo, Op. Cit. hlm. 71.

[4] Tjokroamidjojo, Op. Cit. hlm. 73.

[5] Tjokroamidjojo, Op. Cit. hlm. 76.


3 Comments on “Eyang Kung”

  1. viola says:

    eyangmu nulis buku juga ya zi? wow.

  2. eyang mu hebat jg gaz. jadilah orang yg kelak ditulis riwayatnya dgn bangga oleh cucumu, seperti yg tlah kau lakukan. kmunduran dlm generasi selanjutnya itu kerugian, mutlak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.