Benar atau Salah Nyonya Siami

Al, murid Sekolah Dasar Negeri Gadel 2 yang mengira bahwa mencontek adalah salah, menangis tersedu-sedu ketika melaporkan tindakan “salah” yang dilakukan gurunya kepada ibunya, Nyonya Siami, wanita berjilbab yang juga yakin bahwa mencontek adalah salah. Al diperintah gurunya untuk memberi contekan kepada teman-temannya di Ujian Nasional.

Nyonya Siami tidak ingin keburukan (sesuatu yang sering dianggap abstrak dan mengawang-awang) tertanam dalam diri anaknya, Al. Dia melaporkan hal ini kepada mereka yang berwenang. Kepala Sekolah dan dua guru dicopot dari jabatannya oleh Wali Kota Surabaya karenanya.

Namun, yang terjadi berikutnya adalah hal yang tidak diduga-duga oleh Nyonya Siami. Ratusan warga Kampung Gadel Sari murka kepada tindakan yang diperbuat Nyonya Siami. Mereka menilai Nyonya Siami “tak punya hati nurani”.

Nyonya Siami adalah orang yang salah, atau disalahkan. Tindakannya membangkitkan amarah dari masyarakat. Perbuatannya tidak disenangi mayoritas, atau hanya yang tampak saja. Di permukaan, dia tampak penuh cela.

Pendirian Nyonya Siami bahkan bisa goyah karena keadaan. Masyarakat tak henti-hentinya mengutuk sambil berulang kali meneriakkan kata, “Usir! Usir!” Nyonya Siami tidak lagi diterima oleh masyarakat. Dia sudah menjadi orang yang terbuang karena dituding berlagak sok pahlawan.

Ujian Nasional memang didesain pemerintah untuk dilalui setiap murid tanpa mencontek. Namun, tampaknya warga Kampung Gadel Sari tidak peduli kepada apa yang telah ditetapkan pemerintah.

Paulo Coelho pernah menulis kisah tentang raja dan mata air yang membuat peminumnya gila di Veronika Decides to Die. Di sana dikisahkan seorang penyihir meracun mata air yang diminum oleh seluruh kerajaan, kecuali raja dan keluarganya, sehingga membuat setiap peminumnya gila. Seketika, seisi kerajaan menjadi gila, kecuali raja dan keluarganya. Raja cemas dan langsung mengeluarkan serangkaian maklumat yang mengatur keamanan dan kesehatan publik. Namun, polisi dan inspektur juga sudah gila, dan mereka menganggap yang dilakukan raja adalah sesuatu yang ”gila”. Begitupun juga dengan penduduk kerajaan yang lain. Mereka lantas menuntut raja untuk turun dari tahtanya. Saat raja sudah akan merelakan tahtanya turun, ratu menyuruh raja dan seluruh keluarganya untuk ikut meminum air dari mata air pembuat gila. Seketika, mereka ikut bertingkah laku gila seperti yang lain. Raja pun tidak jadi turun dari tahta.

Cerita tersebut bisa memberi kita pelajaran bahwa benar dan salah adalah nilai yang timbul dari mayoritas masyarakat. Nilai itu tidak tertulis di hukum alam yang bahkan tak tampak, namun nilai tersebut merupakan wujud dari pribadi masing-masing masyarakat. Kecenderungan yang dominan menentukan nilai benar dan salah di suatu kalangan.

Dalam hal ini, warga Kampung Gadeng Sari memilih mengklasifikasikan perbuatan Nyonya Siami sebagai sesuatu yang “salah”. Namun, Prof. Daniel Rosyid, Ketua Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Tandes, menilai perilaku wargalah yang “salah”. Beliau bilang bahwa warga “sakit”. Beliau menyalahkan nilai yang dominan di masyarakat Kampung Gadel Sari.

Nilai benar dan salah yang dipegang warga Kampung Gadeng Sari dan Prof. Daniel Rosyid (beserta Nyonya Siami) masih bisa diperdebatkan. Nilai ini bisa dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, misalnya ke tingkat agama atau negara. Suatu penentuan nilai benar dan salah yang berada pada lingkup masyarakat yang lebih luas lagi.

Yang diyakini warga Kampung Gadel Sari (benarkah mereka yakin?) bertentangan dengan apa yang kebanyakan masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Namun, apa yang diyakini warga Kampung Gadel Sari bisa menjadi racun seperti yang dilakukan penyihir kepada mata air yang menyebabkan seisi kerajaan jadi gila. Nilai bisa berubah, karena “benar dan salah” pun bersifat dinamis. Keyakinan mencontek itu benar yang diusung para pemrotes pengaduan Nyonya Siami bisa saja meruntuhkan keyakinan masyarakat yang lebih luas yang tadinya berpegang pada nilai yang sebaliknya.

Jika hal itu benar-benar terjadi, maka berarti seisi negara ini—seperti kerajaan yang dikisahkan dalam Veronika Decides to Die—sudah jadi gila semua.

Referensi: Kisah Nyonya Siami di portal berita Surya.

Advertisement

7 Comments on “Benar atau Salah Nyonya Siami”

  1. fendi says:

    Saya kutip lagi opini yang telah ditulis “Nilai benar dan salah yang dipegang warga Kampung Gadeng Sari dan Prof. Daniel Rosyid beserta Nyonya Siami masih bisa diperdebatkan. Nilai ini bisa dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, misalnya ke tingkat agama atau negara. Suatu penentuan nilai baik dan buruk yang berada pada lingkup masyarakat yang lebih luas lagi.”

    So gimana kalau tingkat yang lebih tinggi seperti agama / negara ternyata sudah rusak “gila” karena ikut2an minum racun ? Ada satu hal yang tidak bisa dibohongi namanya NURANI terlepas apa keyakinan kita.

    • Mungkin memang hanya nurani yang bisa memberi nilai “benar dan salah” yang termurni, seolah-olah (atau memang) berasal dari Tuhan. Namun, di masa kini masih adakah yang benar-benar dapat mendengar nuraninya dengan murni? Tanpa distorsi lingkungan setitik pun?

  2. Peanut says:

    Nilai yang diyakini seseorang memang bisa berubah, tergantung bagaimana ia mengasah hati nuraninya. Tapi yang jelas, hukum alam tak pernah salah :)

    Punten, ijin share posting ini ke FB ya… :)

  3. arti norma yang masih kuingat dari guru sosiologiku kesayanganku dulu (kalau tidak salah) adalah kumpulan nilai-nilai, nilai masyarakat. tapi menurutku kan sebelumnya ada nilai pribadi, masing-masing individu. aku yakin hati nurani kita mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. di situlah memang peran hidup bermasyarakat. terkadang menyebabkan kita mengalami dilema etika. akan lebih baik kalau kita tetap melakukan apa yang kita tau adalah baik, sesuai hati nurani, sejauh yang masih bisa kita lakukan.

    aku pernah membaca di buku Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer. Jean berkata pada Minke : “Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan?”

    hanya sekedar pendapat dariku.

    • Masalahnya: nurani siapa yang harus didengar? Nurani siapa yang berhak menentukan benar atau salah jika ada yang beda suara? Dan jika sesungguhnya suara nurani hanyalah satu, siapa yang bisa memastikan bahwa semua sedang tidak berbohong.

  4. Benar juga. Apa yang disosialisasikan pada kita dari kecil juga dapat membentuk nilai bagi tiap individu. Perbedaan mungkin saja ada dengan begitu. Lalu apa sebenarnya kita tau apa yang salah dan apa yang tidak? adakah suara yang sama sebagai sesama manusia?
    Kalau dilihat dari sisi agama, aku masih kurang memahami sehingga tidak bisa berpendapat. Kalau dari undang-undang, setiap negara ada kesamaan namun masalahnya ada juga hal-hal yang diperbolehkan di negara yang satu dan tidak di yang satunya lagi. Lagi-lagi perbedaan pandangan ‘layak’ oleh masyarakat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.