Istirahatlah Kata-kata (2017): Memaknai Keheningan

10.-istirahat-kata2.jpg

Istirahatlah Kata-kata (2017) adalah sebuah film biografikal tentang Widji Thukul yang tidak menampilkan Widji Thukul sebagaimana dia biasa dikenal di masyarakat. Dengan mengambil latar cerita Thukul dalam pelariannya dari kejaran rezim Orde Baru, Thukul di sini bukanlah seorang penulis, walaupun di beberapa adegan dia menulis sajak. Thukul masihlah seorang pujangga, tapi kita tidak pernah benar-benar tahu karena pujangga ini menjalani hidup sebagaimana orang biasa: dia bersiasat teknis (ketika mengukur dengan bekal sepotong tali dan operasi matematika sederhana), panik (menjadi “Warto” dan tak bisa menunjukkan KTP-nya ketika seorang warga menginterogasinya), dan bosan (kedai kopi sekali-kali bukanlah ide yang buruk, apalagi jika dilakukan setelah dapat KTP baru). Tidak aneh sebetulnya jika momen-momen “biasa” ini dihadapi juga oleh seorang pujangga karena pada dasarnya mereka juga hanyalah orang biasa. Yang membedakan mereka dari orang biasa adalah observasi yang mereka lakukan yang kemudian mereka tuangkan ke dalam bentuk sebuah karya, sebuah proses yang bisa kita nikmati secara sekelumit di film ini. Hanya sekali Thukul berpuisi sepanjang film (“Kemerdekaan adalah nasi; dimakan jadi tai”) dan dia tampak sama sekali tak antusias ketika temannya memberi apresiasi terhadap salah satu karyanya (“Apa gunanya baca buku; kalau mulut kau bungkam melulu”).

Tidak jelas disebutkan di dalam film tentang perihal yang membuat Thukul diburu oleh aparat. Tiba-tiba saja, anaknya diinterogasi oleh polisi berpakaian preman sembari makan gorengan. Anak Thukul diam saja; sama seperti bapaknya yang lebih banyak membisu sepanjang film. Alhasil, keheningan menjadi bintang utama di sepanjang film. Apakah dia diburu karena PRD (Partai Rakyat Demokratik, yang pendiriannya dijelaskan di narasi di awal film menentang Undang-Undang)? Atau karena puisinya? Kita tidak pernah benar-benar tahu. Bahkan hingga momen terakhir, ketika Sipon, istri Thukul, menangis hebat, jawaban Thukul lagi-lagi hanyalah kebisuan. Dalam hening dia masuk ke dapur untuk membawakan istrinya segelas air putih, sebelum akhirnya masuk kembali ke dapur dan tidak balik-balik lagi. Widji Thukul menghilang dalam hening.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s